Museum Zoologicum Bogoriense Hadirkan Teknologi Imersif, Badak Jawa Jadi Ikon Edukasi Konservasi

Keberadaan spesimen badak Jawa di Museum Zoologicum Bogoriense memiliki nilai edukatif tinggi karena mengingatkan pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian satwa langka Indonesia yang populasinya terus menurun akibat kehilangan habitat dan perburuan liar.

Jumat, 13 Maret 2026 - 14:30 WIB
Museum Zoologicum Bogoriense Hadirkan Teknologi Imersif, Badak Jawa Jadi Ikon Edukasi Konservasi
Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, memberikan keterangan kepada wartawan terkait inovasi teknologi imersif Immerzoa di Museum Zoologicum Bogoriense, Kebun Raya Bogor. Foto: Hallonews/Yopy

HALLONEWS.ID – Museum Zoologicum Bogoriense yang berada di kawasan Kebun Raya Bogor terus melakukan inovasi untuk meningkatkan pengalaman edukasi bagi pengunjung.

Museum yang dikelola PT Mitra Natura Raya bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menghadirkan ruang berbasis teknologi imersif bernama Immerzoa.

Ruang tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman interaktif yang memadukan edukasi dan teknologi, sehingga pengunjung dapat mempelajari keanekaragaman satwa dengan cara yang lebih menarik.

Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, mengatakan ruang pamer museum yang dapat diakses publik saat ini menampilkan 1.064 jenis satwa dengan total sekitar 1.730 spesimen.

Koleksi tersebut mencakup berbagai kelompok fauna mulai dari serangga, ikan, moluska, amfibi, reptil, burung hingga mamalia.

Menurutnya, jumlah koleksi ilmiah yang dimiliki museum sebenarnya jauh lebih besar. Data yang dikelola BRIN mencatat terdapat lebih dari 1,8 juta spesimen fauna dengan sekitar 489.031 nomor koleksi ilmiah, menjadikannya salah satu koleksi zoologi paling lengkap di kawasan Asia Tenggara.

Badak Jawa Jadi Ikon Museum

Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian pengunjung adalah spesimen Badak Jawa jantan yang diawetkan dan ditempatkan di tengah ruang pamer mamalia.

Spesimen tersebut kerap menjadi titik perhatian wisatawan maupun pelajar yang datang berkunjung.

Marga menjelaskan bahwa badak tersebut awalnya merupakan bagian dari sepasang badak yang berasal dari Taman Nasional Ujung Kulon.

Pada tahun 1914, kedua badak itu bermigrasi ke wilayah Tasikmalaya akibat tekanan perburuan liar.

Dalam proses migrasi tersebut, badak betina dilaporkan mati dan tidak diketahui keberadaannya. Sementara badak jantan sempat bertahan hidup dalam kondisi terluka sebelum akhirnya ditemukan warga telah mati di tengah hutan.

Untuk mengenang satwa langka tersebut, bangkai badak kemudian dibawa ke Bogor dan diawetkan di museum pada 1934 setelah organ dalamnya dikeluarkan.

Badak Jawa dengan berat sekitar 2.280 kilogram itu kini menjadi salah satu ikon ruang pamer mamalia di museum tersebut.

Edukasi Pentingnya Konservasi

Keberadaan spesimen badak tersebut memiliki nilai edukatif yang tinggi karena mengingatkan pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian satwa langka Indonesia.

Badak Jawa merupakan salah satu spesies paling langka di dunia yang populasinya terus menurun akibat kehilangan habitat dan perburuan liar.

Selain badak, koleksi mamalia di museum juga mencakup berbagai satwa lain seperti primata, kucing besar hingga mamalia kecil dari berbagai wilayah di Indonesia.

Setiap spesimen dilengkapi informasi ilmiah mengenai habitat, karakteristik, serta peran satwa tersebut dalam ekosistem.

Museum Berusia Lebih dari Satu Abad

Museum Zoologicum Bogoriense memiliki sejarah panjang dalam penelitian keanekaragaman hayati Indonesia.

Museum ini didirikan pada tahun 1894 oleh ilmuwan Belanda J. C. Koningsberger.

Lebih dari satu abad kemudian, museum ini tetap menjadi salah satu pusat penting penelitian dan edukasi mengenai kekayaan fauna Indonesia.

Melalui berbagai koleksi spesimen serta inovasi teknologi seperti Immerzoa, museum tersebut tidak hanya menyimpan sejarah penelitian zoologi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. (opy)