Pakar IPB Dorong Penguatan Produksi Dalam Negeri untuk Kurangi Impor Sapi

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengungkapkan Indonesia masih bergantung pada impor sapi hidup, daging sapi, kulit sapi, hingga kerbau, terutama dari Australia.

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:43 WIB
Pakar IPB Dorong Penguatan Produksi Dalam Negeri untuk Kurangi Impor Sapi
Sapi Indonesia yang masih kurang dan perlu pasokan dari Australia. (Foto: Humas IPB for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengungkapkan Indonesia masih bergantung pada impor sapi hidup, daging sapi, kulit sapi, hingga kerbau, terutama dari Australia.

Ketergantungan tersebut terjadi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan daging, susu, dan bahan baku kulit.

Menurut Prof. Ronny, populasi sapi lokal seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole (PO) memiliki laju pertumbuhan yang relatif lambat dengan produktivitas yang masih rendah. Selain itu, distribusi ternak di Indonesia juga belum merata.

“Indonesia harus mengimpor sapi dan kerbau karena populasi lokal seperti Bali dan Peranakan Ongole (PO) bertumbuh lambat dan produktivitasnya rendah. Distribusi sapi belum merata. Konsentrasi di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah, sementara permintaan tinggi di Jakarta dan Jawa Barat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebutuhan daging sapi nasional terus meningkat seiring bertambahnya jumlah kelas menengah, berkembangnya industri perhotelan dan restoran, serta adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Australia menjadi pemasok utama karena dinilai memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari kedekatan geografis, harga yang kompetitif sekitar US$4 atau setara Rp71.000 per kilogram bobot hidup, kualitas ternak Brahman Cross yang baik, hingga sistem ekspor yang tertata.

Pada 2025, impor sapi hidup Indonesia dari Australia diperkirakan mencapai 583.000 ekor dengan nilai sekitar US$611,6 juta.

Australia juga menguasai lebih dari 60 persen pasar daging sapi beku impor Indonesia, termasuk ekspor jeroan dengan nilai mencapai US$127 juta.

Di sektor bahan baku kulit, Indonesia mengimpor sekitar 1.031 ton kulit sapi dari Australia pada 2023 dengan nilai mencapai US$0,86 juta.

“Kulit sapi Australia umumnya berasal dari sapi Brahman Cross dan sapi feedlot dengan karakteristik tebal dan seragam, sehingga cocok untuk industri sepatu, tas, dan furnitur. Menariknya, impor ini juga untuk dikonsumsi, seperti dibuat menjadi kerupuk kulit,” jelasnya.

Sementara itu, untuk komoditas kerbau, Indonesia tercatat menjadi salah satu dari empat importir terbesar dunia dengan pangsa sekitar 3,52 persen dari total impor global.

Pada 2023, Indonesia mengimpor kerbau hidup dari Northern Territory, Australia, senilai US$3,54 juta. Volume impor tersebut cenderung berfluktuasi dan biasanya meningkat menjelang Hari Raya Iduladha.

Prof. Ronny mengingatkan, tingginya ketergantungan terhadap Australia membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, gangguan pasokan, maupun dinamika politik.

“Ketergantungan pada Australia berisiko karena membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi ekonomi, pasokan, dan politik. Memperluas impor dari India, Brasil, Amerika Serikat, dan Selandia Baru adalah langkah yang lebih aman untuk ketahanan pangan dan kestabilan harga daging sapi,” katanya.

Selain melakukan diversifikasi negara asal impor, Prof. Ronny mendorong pemerintah memperkuat industri peternakan nasional melalui pengembangan feedlot, program pembiakan ternak, serta penguatan industri pengolahan kulit.

Ia juga menyarankan penerapan strategi pengelolaan risiko nilai tukar melalui mekanisme hedging dan kontrak jangka panjang.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas harga daging, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kedaulatan ekonomi nasional ketika terjadi pelemahan nilai tukar rupiah maupun ketidakpastian kondisi politik global. (opy)