PT GTS Internasional Tbk. (GTSI) Rombak Direksi dan Komisaris Usai RUPSLB 26 Februari 2026
PT GTS Internasional Tbk (GTSI) merombak direksi dan komisaris usai RUPSLB 26 Februari 2026. Simak susunan manajemen baru, pergerakan saham GTSI, serta analisis fundamental dan teknikal dari Yes Invest.

HALLONEWS.ID – PT GTS Internasional Tbk. (GTSI), emiten pelayaran pengangkut gas alam cair yang terafiliasi dengan Tommy Soeharto, mengumumkan perombakan jajaran direksi dan dewan komisaris berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada 26 Februari 2026. Informasi tersebut disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia.
Dalam keputusan tersebut, pemegang saham menyetujui pengunduran diri I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra selaku Direktur Utama dan Dira K. Mochtar selaku Direktur Perseroan.
Selain itu, perseroan juga memberhentikan dengan hormat anggota Dewan Komisaris terhitung sejak ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, yaitu Komisaris Utama Setiawan T. Widjojo dan Komisaris Independen Suharno.
Perseroan menyatakan menyetujui pengangkatan anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang baru, yang berlaku efektif sejak Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa ditutup hingga ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang akan diselenggarakan pada tahun 2031, tanpa mengurangi hak Rapat Umum Pemegang Saham untuk memberhentikan sewaktu-waktu dengan memperhatikan Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun susunan terbaru manajemen GTSI adalah Komisaris Utama Rudy Satwiko, Komisaris Independen Suharno, Direktur Utama Yon Irawan, serta Direktur Asty Winasty. Seiring dengan pemberitaan tersebut, saham GTSI terkontraksi 2,58 persen ke level Rp302 pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp4,78 triliun.
PT GTS Internasional Tbk. sendiri berdiri sejak 1986 dan berkembang melalui kemitraan antara PT Humpuss dan Mitsui O.S.K. Lines Ltd. dalam pengembangan kapal pengangkut gas alam cair beserta layanannya.
Pembentukan GTSI diprakarsai oleh PT Humpuss melalui divisi pengapalan gas alam cair menyusul berdirinya Humolco Trans Inc. sebagai perusahaan joint venture dengan Mitsui O.S.K. Lines Ltd.
Pada 2013, dibentuk entitas tersendiri PT GTS Internasional yang berfokus pada bisnis pengangkutan gas alam cair untuk mengembangkan sistem logistik dan infrastruktur komersial di pasar domestik maupun internasional.
Penerapan aturan cabotage sesuai Undang-Undang Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008 turut membuka peluang pertumbuhan bagi industri pelayaran nasional, termasuk GTSI yang berkomitmen menjalin hubungan dengan pemerintah, otoritas maritim, penyedia peralatan, serta penyewa kapal.
Saham GTSI terakhir tercatat di level Rp308. Dalam satu minggu terakhir saham ini terkoreksi 3,16 persen, namun secara bulanan masih menguat 28,57 persen.
Dalam tiga bulan saham melonjak 76,88 persen, sementara secara tahunan mencatat kenaikan signifikan sebesar 684,62 persen. Dalam rentang tiga tahun saham terapresiasi 512 persen dan dalam lima tahun naik 206 persen, mencerminkan volatilitas sekaligus tren kenaikan jangka panjang yang kuat.
Analisis Yesinvest
Secara fundamental, kinerja perseroan menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil dengan laba tahunan berada di kisaran Rp100 miliar sebagaimana tercermin pada tahun buku 2024 dan 2025.
Capaian tersebut menggambarkan karakter bisnis yang telah berada pada fase matang, dengan kontribusi pendapatan yang konsisten dari aktivitas pengangkutan gas alam cair.
Dari sisi valuasi, saham GTSI diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba sebesar 47 kali dan rasio harga terhadap nilai buku sebesar 5,09 kali.
Level tersebut mencerminkan valuasi yang tergolong premium, sehingga ruang kenaikan harga saham sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan kinerja di masa mendatang serta stabilitas kontrak operasional perseroan.
Secara teknikal, pergerakan harga saham berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Area support teridentifikasi di sekitar level Rp236, sementara area resistance yang berpotensi diuji berada di kisaran Rp350.
Pergerakan harga dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif, sehingga respons pasar terhadap sentimen korporasi dan fundamental menjadi faktor penentu arah selanjutnya. (Adi Prasetya Teguh / Research Analyst Yes Invest)
Disclaimer
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.
Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.
