Rencana Penembakan Massal Digagalkan, Neo-Nazi Inggris Dinyatakan Bersalah

Seorang neo-Nazi di Inggris dinyatakan bersalah setelah merencanakan serangan penembakan massal di supermarket. Aksi tersebut digagalkan lewat operasi rahasia MI5.

Kamis, 30 April 2026 - 20:02 WIB
Rencana Penembakan Massal Digagalkan, Neo-Nazi Inggris Dinyatakan Bersalah
Neo-Nazi asal Inggris Alfie Coleman. (X @Muktar for Hallonews).

HALLONEWS.ID – Upaya serangan teror yang berpotensi menimbulkan korban besar berhasil digagalkan aparat keamanan Inggris. Seorang pemuda berideologi neo-Nazi, Alfie Coleman (21), dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas rencana penembakan massal di sebuah supermarket tempat ia bekerja.

Putusan tersebut dibacakan di Old Bailey setelah jaksa menghadirkan berbagai bukti kuat terkait persiapan aksi teror yang dilakukan pelaku.

Coleman diketahui telah menyusun rencana matang, termasuk daftar target yang berisi rekan kerja dan pelanggan yang dianggapnya sebagai musuh berdasarkan pandangan rasial ekstrem.

Kasus ini terungkap berkat operasi penyamaran yang dilakukan oleh MI5. Dalam operasi tersebut, agen intelijen berpura-pura menjadi penjual senjata ilegal untuk menjebak pelaku.

Coleman diketahui berupaya membeli pistol semi-otomatis beserta amunisi dengan dana sekitar £3.500 yang dikumpulkannya dari pekerjaan paruh waktu.

Dalam persidangan, jaksa juga mengungkap bahwa pelaku memiliki ketertarikan mendalam terhadap ideologi ekstrem kanan.

Ia mengoleksi dokumen berbahaya, termasuk panduan pembuatan bahan peledak dan teknik serangan, serta terinspirasi oleh pelaku kekerasan serupa di masa lalu.

Aksi penangkapan dilakukan saat Coleman bertemu dengan agen penyamar di area parkir sebuah supermarket di London. Setelah menerima tas yang diklaim berisi senjata—yang sebenarnya telah diamankan—petugas langsung menyergap dan menangkapnya di lokasi.

Meski sempat membantah berniat melakukan serangan, juri akhirnya menyatakan Coleman bersalah atas tuduhan mempersiapkan aksi terorisme. Putusan ini sekaligus menutup proses hukum panjang yang sempat melalui tahap persidangan ulang.

Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa pelaku telah terpapar radikalisme sejak usia remaja, terutama melalui aktivitas daring selama masa pandemi Covid-19.

Di kediamannya, aparat juga menemukan sejumlah barang mencurigakan seperti senjata tajam, bahan peledak rakitan, serta simbol-simbol neo-Nazi.

Pihak berwenang menilai keberhasilan operasi ini sebagai langkah penting dalam mencegah tragedi besar. Kasus tersebut juga menjadi peringatan serius mengenai ancaman radikalisasi di kalangan generasi muda, khususnya melalui platform digital.

Aparat keamanan Inggris menegaskan komitmennya untuk terus memantau dan menindak potensi ancaman terorisme demi menjaga keselamatan publik. (wib)