Struktur Pendanaan Makin Kokoh, BBRI Punya Amunisi Baru!

BRI (BBRI) perkuat struktur pendanaan 2025 dengan rasio CASA naik ke 70,6% dan cost of fund turun ke 2,9%. Digitalisasi BRImo dan Qlola dorong pertumbuhan dana murah dan potensi saham ke atas 4.000.

Senin, 2 Maret 2026 - 19:07 WIB
Struktur Pendanaan Makin Kokoh, BBRI Punya Amunisi Baru!
Ilustrasi gedung BRI (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menegaskan fokus strateginya pada penguatan struktur pendanaan sepanjang 2025. Hasilnya, rasio dana murah (CASA) meningkat signifikan dan biaya dana (cost of fund/CoF) berhasil ditekan.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa bisnis perbankan pada dasarnya merupakan “funding game”, di mana kekuatan penghimpunan dana menjadi fondasi utama pertumbuhan yang berkelanjutan. Karena itu, BRI membangun funding franchise yang lebih solid guna memperbaiki komposisi pendanaan.

Secara konsolidasi, dana pihak ketiga (DPK) BRI tumbuh 7,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.466,84 triliun pada 2025. Pertumbuhan ditopang oleh kenaikan giro sebesar 19,7% yoy dan tabungan 7,9% yoy, mencerminkan penguatan pendanaan berbasis ritel dan non-wholesale.

Seiring pertumbuhan tersebut, rasio CASA BRI meningkat menjadi 70,6% dari 67,3% pada tahun sebelumnya. Peningkatan porsi dana murah ini berdampak langsung pada efisiensi biaya dana, dengan CoF turun menjadi 2,9% pada akhir 2025 dari 3,2% di 2024.

Di sisi lain, strategi digitalisasi turut mempercepat pertumbuhan dana murah. Direktur Networking dan Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menyebut optimalisasi kanal digital menjadi salah satu pendorong utama.

Aplikasi BRImo mencatat pertumbuhan pengguna aktif sebesar 18,9% yoy menjadi 45,9 juta pada Desember 2025. Nilai transaksi melalui BRImo mencapai Rp7.076,9 triliun atau naik 26,4% yoy.

Sementara itu, platform Qlola yang menyasar segmen menengah, komersial, dan korporasi mencatat kenaikan pengguna aktif 48,1% yoy menjadi 113.000, dengan volume transaksi meningkat 36,2% yoy menjadi Rp13.456 triliun.

Dari sisi merchant, volume penjualan meningkat 48,1% yoy menjadi Rp223,2 triliun. Adapun transaksi QRIS BRI melonjak 100% yoy dengan nilai mencapai Rp85,6 triliun, sementara jumlah transaksi tumbuh 127,5% yoy menjadi lebih dari 782,8 juta transaksi.

Manajemen menilai capaian ini menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya memperkuat basis dana murah, tetapi juga memperluas ekosistem pembayaran digital yang semakin inklusif di berbagai segmen masyarakat.

Peningkatan rasio CASA hingga 70,6% dapat dipandang sebagai indikator fundamental yang kuat. Struktur dana murah yang semakin dominan memberi ruang bagi BRI untuk menjaga net interest margin (NIM) tetap kompetitif di tengah dinamika suku bunga. Penurunan cost of fund (CoF) ke level 2,9% juga mencerminkan efisiensi pendanaan yang berpotensi memperkuat ketahanan profitabilitas ke depan.

Di sisi lain, akselerasi kanal digital seperti BRImo dan Qlola menunjukkan pergeseran model bisnis ke arah ekosistem berbasis teknologi. Transformasi ini tidak hanya memperluas basis nasabah, tetapi juga memperdalam engagement dan potensi cross-selling. Apabila diimbangi dengan ekspansi kredit yang prudent serta manajemen risiko yang disiplin, penguatan struktur pendanaan dan digitalisasi tersebut dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Secara teknikal BBRI pada time frame mingguan, BBRI masih bergerak sideways dengan range support resistance di area 3.580-4.000. Dengan kondisi laba bersih BBRI di tahun 2022 sebesar 51.1 T, pada periode tersebut BBRI berada di atas harga 4.000. Melihat kinerja 2025 yang lebih tinggi daripada tahun 2022 (FY25:56.6T), BBRI berpotensi naik ke atas harga 4.000 dari harga sekarang yang masih di bawah 4.000. Kenaikan ini didukung oleh indikator MACD yang mulai bergerak ke area positif (>0). (Yesaya Christofer / CEO Yes Invest)

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.