Timur Tengah Membara: 787 Tewas, Selat Hormuz Ditutup, Israel Klaim Bongkar Situs Nuklir Rahasia Iran

Korban tewas di Iran melonjak jadi 787 orang saat perang memasuki hari keempat. Israel mengklaim menghancurkan 300 peluncur rudal dan menyerang situs nuklir bawah tanah. Sementara itu, Iran menutup Selat Hormuz dan kawasan Teluk ikut terseret konflik.

Rabu, 4 Maret 2026 - 8:00 WIB
Timur Tengah Membara: 787 Tewas, Selat Hormuz Ditutup, Israel Klaim Bongkar Situs Nuklir Rahasia Iran
Asap mengepul setelah serangan Israel di Lebanon saat konflik AS–Israel melawan Iran memasuki hari keempat dengan korban tewas mencapai 787 orang. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Konflik AS–Israel melawan Iran memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Jumlah korban tewas di Iran dilaporkan meningkat menjadi 787 orang, sementara eskalasi militer kini meluas ke Lebanon, Teluk Persia, hingga Irak.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kepemimpinan baru di Teheran telah menjadi sasaran. Di lapangan, Israel mengintensifkan serangan udara dan memperluas operasi militer ke wilayah Lebanon selatan, bersumpah akan menghancurkan Hizbullah.

Israel Klaim Lumpuhkan 300 Peluncur Rudal Iran

Militer Israel menyatakan telah membongkar sekitar 300 peluncur rudal Iran sejak operasi militer dimulai akhir pekan lalu.

“Sejak dimulainya Operasi Singa Mengaum, angkatan udara Israel telah membongkar sekitar 300 peluncur rudal Iran,” kata militer dalam pernyataan resminya, Selasa (3/3/2026).

Lebih dari 1.600 sorti disebut telah dilakukan untuk melumpuhkan kemampuan serangan balistik Iran.

Selain itu, Israel mengklaim telah menyerang situs nuklir bawah tanah rahasia di pinggiran barat Teheran. Menurut militer Israel, fasilitas tersebut digunakan ilmuwan Iran untuk mengembangkan komponen kunci senjata nuklir secara diam-diam.

Namun klaim tersebut dipertanyakan setelah Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menegaskan belum ada bukti bahwa Iran sedang membangun bom nuklir.

“Meskipun belum ada bukti Iran sedang membangun bom nuklir, persediaan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata dan kurangnya akses penuh bagi inspektur menjadi kekhawatiran serius,” kata Grossi.

Uni Emirat Arab mengklaim telah menjadi sasaran lebih dari 1.000 serangan rudal dan drone Iran. Meski demikian, UEA menegaskan tidak berpartisipasi dalam perang AS–Israel dan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran.

Qatar juga melaporkan dua rudal balistik menghantam pangkalan udara Al Udeid—markas militer AS di negara itu. Tidak ada korban jiwa dilaporkan.

Ketegangan meningkat setelah dua drone menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, menyebabkan kebakaran terbatas.

Konsulat AS di Dubai juga mengalami insiden kebakaran setelah serangan drone.

Kedutaan Besar AS di Irak bahkan mengeluarkan imbauan agar seluruh warga negara Amerika segera meninggalkan negara tersebut.

Lebanon dan Front Baru Perang

Tentara Israel melancarkan serangan darat baru ke Lebanon selatan dan menyerang kota pelabuhan Sidon tanpa peringatan awal, menurut laporan Associated Press.

Israel juga mengklaim telah membunuh komandan Pasukan Quds Iran di Lebanon, Daoud Ali Zadeh.

Di sisi lain, Iran dilaporkan meluncurkan gelombang baru rudal dan drone ke Israel.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa serangan AS dan Israel dilakukan di luar hukum internasional.

Namun ia juga menyebut Iran memikul “tanggung jawab utama” atas eskalasi tersebut karena program nuklirnya, dukungan terhadap kelompok proksi, dan tindakan represif di dalam negeri.

Kawasan di Ambang Perang Regional

Dengan korban tewas yang terus bertambah, Selat Hormuz ditutup, dan negara-negara Teluk terseret ke dalam pusaran konflik, perang ini tak lagi terbatas pada Iran dan Israel.

Risiko krisis energi global, konfrontasi militer langsung di Teluk Persia, serta potensi perang regional terbuka kini semakin nyata. (ren)