Kerja Sama dengan PT BSA, Ribuan Ton Gunungan Sampah di TPA Cipayung Siap Diolah
Pemkot Depok melalui DLHK menggandeng PT BSA untuk mengelola 1.300 ton sampah per hari di TPA Cipayung. Kerja sama ini diklaim mampu mengurangi gunungan sampah dan memperpanjang usia TPA.

HALLONEWS.ID – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni mengungkapkan, bahwa kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dengan PT Bintang Sakera Abadi (BSA) dapat mengurangi gunungan atau timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipayung.
“Bila masyarakat bisa melakukan pengurangan timbunan sampah di hulu, kerja sama kita dengan BSA tentunya dapat mengurangi gunungan sampah di TPA,” kata Reni saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/3/2026).
Sebab, perjanjian kerjasama (PKS) dalam pengelolaan sampah dilakukan untuk menanggulangi timbunan sampah sebanyak 1.300 ton per hari, yang masuk ke TPA.
Menurut dia, dalam sehari PT BSA akan mengelola 1.300 ton sampah. Bilamana timbunan sampah kurang dari jumlah tersebut, maka PT BSA dapat mengolah timbunan sampah yang ada di TPA.
“Kan sehari harus mengelola sampah 1.300 ton, kalau kurang dari segitu, maka BSA bisa ngambil sisanya dari gunungan sampah di TPA. Jadi sampah yang ada bakal berkurang,” ungkapnya.
Ia menuturkan, progres kerja sama ini baru sebatas memorandum of understanding (MoU). Saat ini, masih tahap draft pembahasan PKS. Terkait hal itu, nantinya juga akan disampaikan ke DPRD jika sudah final.
“Kita nggak mau kejadian incinerator terulang kembali atau pengelola sampah yang tak konsisten. Hanya kita mau buru-buru, ini kan tahapan sudah dari 2023 lalu,” imbuhnya.
Dalam mengelola sampah, kata Reni, bukan hanya berkaitan dengan masalah kebersihan. Namun, di situ banyak komponen lain. Misalnya, kesehatan masyarakat, kemampuan fiskal daerah, kemudian juga ada tata kelola pemerintahan.
Ia merinci, ketika bicara 1.300 ton per hari, itu bukan nilai statistik. Tetapi di situ ada biaya operasional yang harus dikeluarkan, sarana dan prasarana yang dimiliki, belum lagi mengenai usia TPA.
“Jadi mau tidak mau, 1.300 ton per hari itu harus kita tangani dan kalau tidak, pertama operasionalnya akan semakin mahal. Kedua usia TPA yang seharus dua (2) tahun bakal menjadi hitungan bulan atau semakin pendek,” paparnya.
Reni menegaskan, bahwa pengelolaan itu prioritasnya ialah timbunan sampah. Apabila sudah ada pengurangan sampah di hulu, maka timbunannya akan semakin sedikit.
“Misalnya dalam perjanjian sehari BSA harus kelola timbunan sampah 1.300 ton, dengan adanya pengurangan di hulu hanya sekitar 1.000 ton. Itu kan jumlahnya belum tercukupi, jadi dia akan mengambil kekurangan jumlah sampahnya dari gunungan sampah TPA,” tukasnya. (jan)
