Trump Klaim Amunisi AS “Hampir Tak Terbatas”: Perang Bisa Berlangsung Selamanya

Donald Trump menyebut persediaan amunisi AS hampir tak terbatas dan perang bisa berlangsung “selamanya”. Konflik Iran-Israel memasuki hari keempat, serangan meluas hingga Saudi dan Lebanon.

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:07 WIB
Trump Klaim Amunisi AS “Hampir Tak Terbatas”: Perang Bisa Berlangsung Selamanya
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait kelanjutan operasi militer AS di Timur Tengah. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya memiliki persediaan amunisi “kelas menengah dan menengah atas” yang hampir tak terbatas. Dalam unggahan di platform TruthSocial, ia menyatakan perang bisa dilakukan “selamanya” hanya dengan menggunakan perlengkapan tersebut.

“Seperti yang disampaikan kepada saya hari ini, kita memiliki persediaan senjata ini yang hampir tak terbatas. Perang dapat dilakukan ‘selamanya’, dan dengan sangat sukses,” tulis Trump. Ia menutup pesannya dengan pernyataan tegas: “Amerika Serikat sudah siap, dan siap untuk MENANG BESAR!!!” seperti dikutip, Selasa (3/3/2026).

Pernyataan itu muncul saat konflik Iran–Israel yang didukung AS memasuki hari keempat dan terus meluas.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kepada media AS bahwa Israel tidak menginginkan perang berkepanjangan.

“Kita tidak akan mengalami perang tanpa akhir. Ini akan menjadi tindakan cepat dan tegas,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News.

Netanyahu menyebut serangan terhadap Iran sebagai langkah preventif dan menegaskan prinsip “perdamaian melalui kekuatan”.

Kedutaan AS di Riyadh Diserang Drone

Konflik melebar ke Arab Saudi. Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan dua drone menghantam area sekitar Kedutaan Besar AS di Riyadh, memicu kebakaran terbatas dan kerusakan ringan. Tidak ada korban jiwa.

Trump merespons dengan mengatakan publik akan “segera mengetahui” bentuk pembalasan AS.

Arab Saudi juga mengklaim telah mencegat delapan drone tambahan di dekat Riyadh dan Al-Kharj.

Kerusakan di Natanz Dipertanyakan

Citra satelit terbaru menunjukkan dugaan kerusakan pada kompleks nuklir Natanz, salah satu pusat pengayaan uranium utama Iran. Namun, Kepala International Atomic Energy Agency Rafael Grossi sebelumnya menyatakan belum ada indikasi kerusakan signifikan pada fasilitas nuklir Iran.

Natanz selama ini menjadi target strategis dalam konflik sebelumnya dan kembali diserang dalam eskalasi terbaru.

Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) mengonfirmasi melakukan serangan simultan di Teheran dan Beirut. Perintah evakuasi dikeluarkan untuk puluhan desa di Lebanon selatan serta wilayah pinggiran Beirut yang diduga terkait Hezbollah.

Pejabat Lebanon melaporkan sedikitnya 52 orang tewas akibat serangan Israel.

Rusia Pilih De-eskalasi

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan para pemimpin Teluk, termasuk UEA, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi. Kremlin menyatakan Rusia siap membantu “menstabilkan situasi”, namun tidak menunjukkan tanda-tanda intervensi militer langsung.

Analis menilai Moskow enggan terlibat karena tidak ada klausul pertahanan bersama dalam pakta Rusia–Iran, fokus Rusia masih tertuju pada Ukraina, dan Putin tidak ingin merusak hubungan dengan Trump.

Dampak Global: Energi dan Transportasi Terguncang

Situasi regional berdampak luas seperti Qatar menghentikan produksi gas alam, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, harga energi melonjak dan ribuan penerbangan dibatalkan, serta puluhan ribu warga asing, termasuk Inggris, disiapkan untuk evakuasi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa “serangan terberat masih akan datang” dan fase berikutnya akan “jauh lebih menghukum Iran”.

Dengan enam personel militer AS dilaporkan tewas dan ratusan korban jiwa di Iran, konflik ini kini berada di titik paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.

Trump telah menyatakan operasi bisa berlangsung empat hingga lima minggu, atau “jauh lebih lama” bila diperlukan. (ren)