Trump Sebut Perang Iran Lebih Mudah dari Perkiraan, AS Klaim Hancurkan Puluhan Kapal
Donald Trump menyebut perang melawan Iran lebih mudah dari yang diperkirakan setelah militer AS menghancurkan puluhan kapal ranjau Iran dalam operasi militer terbaru.

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung lebih mudah dari yang diperkirakan Washington sejak awal.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah operasi militer di Iran merupakan “petualangan kecil” atau sebuah perang.
“Keduanya benar,” kata Trump dalam pidatonya di Kentucky pada Rabu (11/3/2026) sebagaimana dilansir Sky News.
“Bagi mereka ini adalah perang, tetapi bagi kita ternyata lebih mudah dari yang kita duga,” ujarnya.
Puluhan Kapal Iran Dihancurkan
Trump mengklaim militer Amerika telah menghantam puluhan kapal Iran yang diduga digunakan untuk menebar ranjau laut.
Menurutnya, pasukan AS menggunakan jenis senjata yang sama seperti operasi militer Amerika yang sebelumnya menargetkan kapal penyelundup narkoba di kawasan Karibia.
“Kami telah menghantam 28 kapal ranjau menggunakan senjata yang sama persis dengan yang kami gunakan terhadap para pengedar narkoba,” kata Trump.
Ia juga menyebut bahwa dalam dua hari pertama konflik, militer Amerika berhasil menghancurkan hingga 54 kapal Iran, meski tidak jelas apakah seluruhnya merupakan kapal penyebar ranjau.
Operasi “Midnight Hammer”
Trump menyinggung operasi militer yang disebut “Operation Midnight Hammer” sebagai titik awal serangan besar terhadap Iran.
Menurutnya, setelah operasi tersebut Washington sempat mengira Iran akan berhenti melakukan perlawanan.
“Setelah Midnight Hammer, kami pikir itu akan menjadi akhir dari mereka untuk sementara waktu. Tapi mereka mulai lagi,” kata Trump.
Ia menegaskan Amerika Serikat harus menyelesaikan konflik tersebut hingga tuntas.
“Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini. Kita tidak ingin kembali setiap dua tahun sekali,” ujarnya.
Iran Sebut Resolusi PBB Tidak Adil
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Amir Saeid Iravani mengecam resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuntut Iran menghentikan serangan di kawasan Timur Tengah.
Ia menyebut resolusi tersebut sebagai bentuk ketidakadilan terhadap negaranya.
“Resolusi ini mendistorsi realitas di lapangan dan mengabaikan akar penyebab krisis saat ini,” kata Iravani.
Menurutnya, Iran justru menjadi korban utama agresi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Ia mengklaim serangan tersebut telah menimbulkan korban besar, termasuk 1.348 warga sipil tewas, lebih dari 17.000 orang terluka, serta ribuan rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan rusak.
Iran Tuntut Ganti Rugi
Sementara itu Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan perang hanya bisa berakhir jika Amerika Serikat dan Israel mengakui hak Iran serta membayar ganti rugi atas kerusakan yang terjadi.
Melalui pernyataan di media sosial pada Selasa (10/3/2026), Pezeshkian mengatakan penyelesaian konflik harus mencakup jaminan internasional agar serangan serupa tidak terulang di masa depan.
“Cara mengakhiri perang ini adalah dengan mengakui hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional terhadap agresi di masa mendatang,” ujarnya.
Namun Trump sebelumnya menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membuat kesepakatan damai dengan Iran kecuali Teheran melakukan “penyerahan tanpa syarat.”
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Konflik yang terus berlangsung juga berdampak pada sektor pariwisata dan penerbangan di Timur Tengah.
Data dari World Travel and Tourism Council memperkirakan perang tersebut menyebabkan kerugian sekitar 600 juta dolar AS per hari bagi industri perjalanan dan pariwisata kawasan.
Penutupan sejumlah pusat penerbangan utama seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Bahrain membuat ratusan ribu penumpang terdampak serta ribuan penerbangan harus dibatalkan atau dialihkan.
Meski demikian, Trump tetap menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilanjutkan hingga tujuan Amerika Serikat tercapai.
“Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini,” kata Trump. (ren)
