Trump Serang Pemimpin Baru Iran: Mojtaba Khamenei “Tidak Dapat Diterima” oleh AS

Presiden AS Donald Trump menolak keras penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Pernyataan tajam itu disampaikan setelah Iran resmi mengumumkan suksesi kepemimpinan pada Minggu, 8 Maret 2026.

Senin, 9 Maret 2026 - 11:31 WIB
Trump Serang Pemimpin Baru Iran: Mojtaba Khamenei “Tidak Dapat Diterima” oleh AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One saat perjalanan resmi. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Presiden Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Dalam wawancara telepon dengan media Axios pada awal pekan ini, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menerima kemungkinan Mojtaba Khamenei memimpin Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan sebelum pengumuman resmi Iran pada Minggu (8/3/2026) yang menetapkan Mojtaba sebagai penerus ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.

“Mereka hanya membuang-buang waktu,” kata Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan Mojtaba Khamenei menjadi kandidat terdepan pengganti ayahnya seperti dikutip dari Sky News, Senin (9/3/2026).

Trump bahkan secara tegas menolak legitimasi politik Mojtaba.

“Putra Khamenei itu tidak berbobot. Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya,” ujar Trump.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat menginginkan perubahan kepemimpinan di Iran yang dapat membawa stabilitas.

“Kami menginginkan sesuatu yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” kata Trump.

Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi

Media pemerintah Iran sebelumnya mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut.

Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli Iran, lembaga beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi dalam sistem politik Iran.

Mojtaba menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28 Februari 2026) di Teheran.

Dalam sistem politik Iran yang dikenal sebagai “Vilayat-e Faqih,” pemimpin tertinggi memegang otoritas tertinggi dalam seluruh urusan negara, termasuk militer, keamanan, dan kebijakan strategis.

Iran Sempat Dipimpin Dewan Sementara

Setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei, Iran sempat dipimpin oleh dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari tiga tokoh utama negara.

Mereka adalah Masoud Pezeshkian, Presiden Iran; Gholamhossein Mohseni Ejei, Kepala Peradilan; dan Alireza Arafi, ulama sekaligus kepala organisasi paramiliter Basij.

Dewan ini memimpin pemerintahan sementara hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi yang baru.

Seruan Persatuan dari Pejabat Iran

Di tengah kritik dari Washington, pejabat keamanan tinggi Iran menyerukan persatuan nasional di sekitar pemimpin tertinggi yang baru.

Politisi senior Iran Ali Larijani juga meminta masyarakat Iran untuk mendukung kepemimpinan Mojtaba Khamenei demi menjaga stabilitas negara.

Seruan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya memperingatkan bahwa siapa pun yang dipilih sebagai pemimpin Iran kemungkinan “tidak akan bertahan lama”.

Penunjukan Mojtaba Khamenei kini menjadi perhatian dunia internasional karena terjadi di tengah konflik geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah. (ren)