Trump Ultimatum Iran: “47 Tahun Hanya Bicara, Sekarang saatnya Rezim Itu Jatuh!”

Presiden AS Donald Trump desak perubahan rezim di Iran, kerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah, sebut “47 tahun hanya bicara, kini saatnya bertindak.”

Sabtu, 14 Februari 2026 - 18:54 WIB
Trump Ultimatum Iran: “47 Tahun Hanya Bicara, Sekarang saatnya Rezim Itu Jatuh!”
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan di Fort Bragg (kini Fort Liberty), pangkalan utama militer Angkatan Darat Amerika Serikat yang terletak di North Carolina, Jumat (13/2/2026) waktu setempat. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID-Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyalakan tensi geopolitik global dengan pernyataan paling keras terhadap Iran sepanjang masa jabatannya. Ia secara terbuka menyebut bahwa “perubahan rezim di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi”, sembari mengerahkan kapal induk kedua Amerika Serikat ke Timur Tengah di tengah eskalasi militer yang terus meningkat.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut setelah meninjau pasukan di Fort Bragg, pangkalan Utama militer Angkatan Darat Amerika Serikat di North California, Jumat (13/2/2026) waktu setempat. Saat ditanya wartawan apakah ia menginginkan pergantian pemerintahan di Teheran, Trump menjawab tanpa ragu:

“Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi. Selama 47 tahun mereka hanya berbicara dan berbicara, sementara banyak nyawa hilang. Kaki putus, lengan putus, wajah hancur, ini sudah terlalu lama.”

Trump menolak menyebut siapa yang ia harapkan menggantikan kepemimpinan ulama Iran, hanya mengatakan “ada beberapa orang” yang bisa membawa perubahan.

Trump juga memastikan bahwa kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, tengah dikerahkan menuju Timur Tengah, siap beroperasi bila negosiasi antara Washington dan Teheran gagal menghasilkan kesepakatan damai.

“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya. Kapal itu akan segera berangkat,” ujarnya dengan nada ancaman.

Langkah ini merupakan bagian dari peningkatan kekuatan militer AS di kawasan setelah USS Abraham Lincoln dan kapal perusak pengawalnya lebih dulu dikerahkan bulan lalu. Ketegangan melonjak pekan lalu ketika pasukan AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati USS Abraham Lincoln di Selat Hormuz.

Pertemuan antara pejabat Iran dan Amerika di Oman juga belum membuahkan hasil. Meski demikian, Trump mengisyaratkan pintu diplomasi masih terbuka, asalkan Iran bersedia menyerah pada tuntutan Washington.

“Berikan kami kesepakatan yang seharusnya mereka berikan sejak awal. Jika mereka memberi kami kesepakatan yang tepat, kami tidak akan melakukan itu,” katanya.

Namun dari Teheran, Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa serangan apa pun dari AS akan “menjerumuskan seluruh kawasan ke dalam perang besar.”

Trump juga menegaskan bahwa program nuklir Iran hanya satu bagian kecil dari agenda yang lebih luas.

“Jika kita melakukannya, itu akan menjadi bagian terkecil dari misi ini,” ucapnya, menegaskan bahwa Washington kini menargetkan perubahan struktural di jantung kekuasaan Iran.

Langkah ini sejalan dengan posisi Benjamin Netanyahu, yang baru saja bertemu Trump di Washington, D.C. pekan ini. Netanyahu mendesak agar kesepakatan apa pun dengan Teheran mencakup pembatasan ketat program rudal balistik Iran yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat setelah AS sempat menargetkan fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, di tengah perang 12 hari antara Iran dan Israel.

Kini, dengan dua kapal induk raksasa di Timur Tengah dan retorika Trump yang kian tajam, pesan Gedung Putih jelas: jika diplomasi gagal, Washington siap menggulingkan rezim Teheran. (ren)