Pemimpin Tertinggi Iran Tewas! Serangan Gabungan AS–Israel Guncang Teheran

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan AS–Israel di Teheran. Iran tetapkan 40 hari berkabung dan ancam balasan militer.

Minggu, 1 Maret 2026 - 10:18 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Tewas! Serangan Gabungan AS–Israel Guncang Teheran
Kompilasi foto : Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang dinyatakan tewas. Dan kondisi Iran pasca digempur Amerika. (Dok foto AI Hallonews)

HALLONEWS.ID – Kabar mengejutkan datang dari Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu waktu setempat. Ia wafat dalam usia 86 tahun.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi kabar duka tersebut pada Minggu (1/3/2026) dini hari, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Khamenei telah terbunuh dalam operasi militer terkoordinasi kedua negara.

Serangan tersebut disebut menargetkan sejumlah titik strategis di Teheran, termasuk kawasan yang menjadi pusat aktivitas kepemimpinan tertinggi Iran.

Ledakan besar dilaporkan terdengar di beberapa wilayah ibu kota, disertai kerusakan infrastruktur dan korban jiwa di pihak sipil.

40 Hari Berkabung

Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan meliburkan aktivitas kerja selama sepekan. Ribuan warga dilaporkan turun ke jalan-jalan Teheran untuk menyampaikan duka dan solidaritas.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (1/3/2026) menyatakan kehilangan “pemimpin besar” dan bersumpah akan melakukan pembalasan.

Pernyataan resmi mereka menegaskan bahwa kematian Khamenei akan menjadi titik balik dalam sejarah Republik Islam.

Sebagai respons awal, Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah instalasi militer AS di Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik berskala regional.

Di Washington, keputusan Presiden Trump menuai tekanan politik dari anggota Kongres, termasuk dari kalangan Partai Demokrat dan sebagian Republik, yang menilai langkah militer tersebut berpotensi melampaui kewenangan konstitusional presiden.

Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini. Selama lebih dari tiga dekade, ia dikenal sebagai figur sentral dalam membentuk kebijakan pertahanan, strategi regional, serta sikap keras Iran terhadap Barat.

Kepergiannya menandai babak baru yang belum pasti bagi politik domestik Iran maupun stabilitas kawasan Timur Tengah.(wib)