Garuda Indonesia (GIAA) Bahas Risiko dan Skema Pendanaan di Balik Rencana Pembelian 50 Pesawat Boeing

Danantara Indonesia mengungkap risiko dan skema pendanaan di balik rencana pembelian 50 pesawat Boeing oleh Garuda Indonesia (GIAA), termasuk tantangan waktu pengiriman hingga tujuh tahun dan opsi pembiayaan tunai maupun kredit.

Minggu, 1 Maret 2026 - 9:00 WIB
Garuda Indonesia (GIAA) Bahas Risiko dan Skema Pendanaan di Balik Rencana Pembelian 50 Pesawat Boeing
Penampaka pesawat Boeing yang akan dibeli Garuda. (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.ID – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia mengungkapkan sumber pendanaan sekaligus sejumlah risiko di tengah rencana pembelian 50 unit pesawat yang diproduksi oleh Boeing.

Rencana tersebut mengemuka setelah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan tarif resiprokal bertajuk The Agreement on Reciprocal Trade pada 19 Februari 2026, yang salah satu klausulnya menyebutkan komitmen Indonesia untuk membeli 50 pesawat produksi perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menyampaikan bahwa rencana pembelian masih mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk risiko waktu pengiriman pesawat yang dapat mencapai tujuh tahun.

Ia menekankan bahwa persoalan utama bukan pada pemilihan jenis pesawat, melainkan pada kepastian dan kecepatan pengiriman. Hingga saat ini, Garuda Indonesia disebut belum melakukan pemesanan dan masih dalam posisi sebagai calon pembeli karena masih melakukan kajian internal.

Rohan juga menyebutkan bahwa pihak Boeing belum memberikan kepastian apakah pengiriman dapat dilakukan sekaligus atau bertahap.

Pembahasan saat ini masih berada di level pemerintah dan belum memasuki tahap lanjutan yang mencakup detail teknis pengadaan. Selain itu, sumber pendanaan untuk pembelian tersebut juga belum diputuskan secara final.

Menurut Rohan, skema pendanaan dapat berasal dari berbagai opsi, mulai dari dukungan pembiayaan dari pemasok hingga skema cicilan langsung kepada Boeing. Opsi pembayaran tunai maupun kredit, termasuk pembahasan suku bunga dan struktur pembiayaan, masih menjadi bagian dari proses negosiasi.

Ia menegaskan bahwa skala transaksi yang besar membuat pembahasan berjalan kompleks dan melibatkan berbagai pihak, termasuk potensi pendanaan melalui lembaga perbankan.

Di luar rencana pembelian pesawat, Danantara juga menyatakan akan memprioritaskan penataan ulang rute penerbangan Garuda Indonesia.

Rohan menilai terdapat rute dengan tingkat permintaan tinggi dan ada pula yang sepi, sehingga fokus akan diarahkan pada rute dengan tingkat keterisian penumpang paling tinggi.

Ia mencontohkan rute Surabaya yang masih mencatat frekuensi penerbangan hingga delapan sampai sepuluh kali per hari.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa rencana impor 50 unit pesawat tersebut seluruhnya akan dilakukan oleh Garuda Indonesia.

Namun, ia tidak merinci jadwal pelaksanaannya. Maskapai pelat merah tersebut diketahui telah melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada September 2025 untuk membicarakan rencana pembelian, meski hingga kini belum terdapat perkembangan lanjutan yang diumumkan secara resmi.

Tentang Perusahaan

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk didirikan berdasarkan Akta Nomor 137 tanggal 31 Maret 1950 oleh Notaris Raden Kadiman dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui surat keputusan No. J.A.5/12/10 tanggal 31 Maret 1950 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat Nomor 30 tanggal 12 Mei 1950 tambahan No. 136. Perseroan bergerak di bidang jasa angkutan udara niaga dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 11 Februari 2011.

Pergerakan Harga Saham

Saham Garuda Indonesia ditutup pada level 84. Dalam satu minggu terakhir saham terkoreksi 2,33 persen dan dalam satu bulan melemah 4,55 persen.

Secara tiga bulan saham turun 17,65 persen, sementara dalam satu tahun masih mencatatkan kenaikan 86,67 persen. Dalam jangka tiga tahun saham melemah 13,40 persen dan dalam lima tahun terkoreksi 74,55 persen.

Analisis Yesinvest

Secara fundamental, pendapatan, laba, dan ekuitas perseroan masih berada dalam kondisi negatif. Namun, terdapat sinyal dukungan dari pemerintah untuk melakukan penyelamatan melalui penyuntikan dana serta rencana penggabungan dengan Pelita Air.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperbaiki kinerja operasional dan struktur keuangan Garuda Indonesia ke depan.

Dari sisi valuasi, penilaian terhadap saham Garuda Indonesia menjadi sulit dilakukan pada saat ini karena perseroan berada dalam kondisi ekuitas negatif dan membukukan laba negatif.

Kondisi tersebut membuat pendekatan valuasi konvensional menjadi terbatas dan sangat bergantung pada ekspektasi pasar terhadap proses restrukturisasi dan dukungan pemegang saham pengendali.(Adi Prasetya Teguh / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.