Wamendag Murka! Harga Cabai Tembus Rp120 Ribu di Pasar Mayestik

Wamendag Dyah Roro Esti geram saat menemukan harga cabai rawit mencapai Rp120 ribu per kilogram di Pasar Mayestik. Pemerintah soroti rantai distribusi yang memicu lonjakan harga.

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:20 WIB
Wamendag Murka! Harga Cabai Tembus Rp120 Ribu di Pasar Mayestik
Wamendag Dyah Roro Esti berdialog dengan pedagang cabai saat sidak harga bahan pokok di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Foto: Hallonews/Agung Nugroho

HALLONEWS.ID – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti dibuat geram saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga bahan pokok di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.

Dalam peninjauan tersebut, Roro menemukan harga cabai rawit melonjak hingga Rp120 ribu per kilogram, jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang berkisar Rp40 ribu hingga Rp57 ribu per kilogram.

“Ini cabai lagi naik banget, biasanya karena apa?” tanya Roro kepada salah satu pedagang.

Pedagang menjelaskan bahwa tingginya harga disebabkan mahalnya harga dari distributor. Cabai rawit disebut sudah dibeli dengan harga modal tinggi, sehingga harga jual ikut terdongkrak.

Perbedaan Harga Antar Pedagang

Roro juga menemukan adanya perbedaan harga cabai yang cukup signifikan antar pedagang di pasar yang sama.

Di beberapa lapak lain, harga cabai masih berada di kisaran Rp37 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Perbedaan harga ini membuat Roro semakin geram.

“Ini beda dengan yang tadi. Berarti di sini lebih kompetitif. Di sebelah-sebelah tadi lebih mahal, makanya saya sempat marah,” ujarnya.

Telur Relatif Stabil

Selain cabai, Roro juga meninjau harga telur ayam. Pedagang menyebut harga telur masih stabil di kisaran Rp32 ribu per kilogram, meskipun sedikit di atas harga acuan sekitar Rp30 ribu per kilogram.

Kenaikan tersebut disebut terjadi sejak menjelang Ramadan akibat meningkatnya harga dari distributor.

Daging Ikut Disorot

Harga daging sapi juga menjadi perhatian. Roro menemukan harga daging mencapai Rp160 ribu per kilogram, bahkan untuk bagian tertentu seperti tenderloin mencapai Rp170 ribu per kilogram.

Pedagang mengaku harga tinggi karena pembelian dilakukan melalui pengepul, bukan langsung dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Melihat kondisi tersebut, Roro menilai masalah utama terletak pada rantai distribusi yang terlalu panjang.

“Semakin banyak perantara, harga pasti semakin naik. Kalau langsung dari pemasok, tentu lebih murah,” katanya.

Minyakita Sesuai HET

Di sisi lain, harga minyak goreng rakyat Minyakita masih terpantau stabil sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp15.700 per liter.

Roro menegaskan pemerintah akan terus memperketat pengawasan distribusi bahan pokok, terutama menjelang Lebaran.

“Kami ingin memastikan, meskipun permintaan meningkat, harga tetap terkendali dan tidak merugikan masyarakat,” tegasnya. (agn)