Algoritma Perang di Layar Kecil
Fenomena “perang narasi” di era algoritma media sosial mengaburkan batas fakta dan rekayasa. Kisah Rubby Fazila menggambarkan bagaimana konten AI membentuk persepsi, emosi, dan kebenaran di layar kecil.

HALLONEWS.ID – Malam itu, Rubby Fazila menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Bukan karena ia tak punya pekerjaan, melainkan karena sesuatu di dalam layar itu terasa berbeda-lebih hidup, lebih menggugah, sekaligus… lebih membingungkan.
Sebuah video muncul di berandanya. Animasi sederhana, bergaya mainan anak-anak, namun isinya bukan cerita kanak-kanak. Tokoh-tokohnya berbicara tentang perang, tentang iman, tentang pengkhianatan.
Di akhir video, musik berhenti mendadak, dan sebuah kalimat muncul: “Ini bukan sekadar konflik, ini tentang siapa yang mengendalikan kebenaran.”
Rubby mengernyit. Ia tahu, ini bukan video biasa.
Beberapa tahun terakhir, ia terbiasa melihat apa yang orang sebut “konten AI”–video cepat, dangkal, dan sering kali terasa kosong. Tapi yang ini berbeda. Ada emosi. Ada narasi. Bahkan, ada humor yang terasa “manusiawi”.
Ia menggulir lagi. Video lain muncul. Kali ini berupa parodi: seorang tokoh dunia digambarkan berbicara sendiri di depan cermin, seolah sedang bernegosiasi dengan bayangannya sendiri. Rubby tersenyum tipis. Lucu, tapi menyentil.
Tanpa sadar, ia mulai bertanya: apakah ini sekadar hiburan, atau sesuatu yang lebih dalam?
Di sudut kamar, televisi menyala pelan. Berita menampilkan potongan konflik yang sama, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Kaku, formal, penuh istilah diplomatik.
Rubby mematikan TV. Lalu kembali ke ponselnya.
“Yang mana yang benar?” gumamnya.
Ia teringat percakapan dengan temannya, Dimas, seorang dosen komunikasi. “Di era sekarang,” kata Dimas suatu sore, “perang itu bukan cuma soal senjata. Tapi soal siapa yang bisa menguasai cerita.”
“Cerita?” tanya Rubby waktu itu.
“Iya. Narasi. Orang tidak lagi hanya percaya pada fakta, tapi pada cerita yang paling menyentuh perasaan mereka.”
Malam ini, kata-kata itu terasa nyata.
Video berikutnya menampilkan kisah lama yang dibungkus ulang-cerita religius yang diberi wajah modern. Tokoh-tokohnya bukan lagi sekadar figur sejarah, tapi simbol dari konflik masa kini. Ada pesan moral, ada sindiran politik, dan ada emosi yang ditanamkan dengan sangat rapi.
Rubby menghela napas panjang.
Ia sadar, ini bukan sekadar video. Ini adalah pesan yang dirancang dengan cermat. Bukan hanya untuk dilihat, tapi untuk dirasakan-bahkan dipercaya.
Namun di situlah kegelisahannya tumbuh.
Jika teknologi mampu menciptakan cerita yang begitu meyakinkan, di mana batas antara kenyataan dan rekayasa? Jika emosi bisa diprogram, apakah keyakinan masih lahir dari kesadaran, atau sekadar hasil dari algoritma?
Rubby menutup aplikasinya. Ia berjalan ke jendela, memandang jalanan yang lengang. Dunia di luar tampak tenang, jauh dari hiruk pikuk konflik yang ia lihat di layar.
Tapi ia tahu, ketenangan itu mungkin semu.
Perang hari ini tidak selalu terdengar sebagai dentuman. Ia bisa hadir dalam bentuk lain–dalam video pendek, dalam meme, dalam narasi yang dibagikan ribuan kali tanpa sempat dipertanyakan.
Dan di tengah semua itu, manusia seperti Rubby berada di persimpangan: menjadi penonton pasif, atau pembaca kritis.
Ia kembali duduk, menyalakan ponselnya lagi.
Kali ini, bukan untuk sekadar menonton. Tapi untuk memahami.
Karena mungkin, di era algoritma ini, keberanian terbesar bukanlah memilih pihak–melainkan berani mempertanyakan cerita yang disajikan.(M. Harry Mulya Zein/Penulis adalah Pengajar Vokasi Ilmu Administrasi UI dan UNPRI Kabupaten Tangerang)
