Trump Ancam Ciptakan “Neraka” bagi Iran Jika Tak Buka Selat Hormuz

Ketegangan AS-Iran memuncak setelah ancaman keras Donald Trump dan serangan balasan Iran ke fasilitas energi di Timur Tengah.

Minggu, 5 April 2026 - 22:07 WIB
Trump Ancam Ciptakan “Neraka” bagi Iran Jika Tak Buka Selat Hormuz
Presiden Amerika Donald Trump ancam Iran agar buka Selat Hormuz (IG Donald Trump Jr).

HALLONEWS.ID – Konflik antara Presiden Amerika Donald Trump dan Iran kembali memanas dengan eskalasi yang semakin mengkhawatirkan.

Presiden Amerika Serikat itu bahkan melontarkan ancaman keras dengan menyebut akan menciptakan “neraka” bagi Iran jika negara tersebut terus mengganggu jalur strategis dunia di Selat Hormuz.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika ancaman terhadap jalur distribusi energi global terus berlanjut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu krisis energi global.

Di sisi lain, Iran justru meningkatkan klaim militernya. Pemerintah Teheran menyatakan telah menembak jatuh dua pesawat angkut militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik Amerika Serikat.

Televisi pemerintah Iran bahkan menayangkan rekaman puing-puing yang diklaim sebagai salah satu pesawat yang berhasil dijatuhkan.

Klaim tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Trump menyampaikan bahwa seorang perwira Amerika yang sempat hilang akibat jatuhnya jet tempur F-15E telah berhasil diselamatkan dan dalam kondisi aman.

Pernyataan ini menimbulkan kebingungan sekaligus mempertegas intensitas konflik yang kini berlangsung di berbagai lini.

Tak hanya serangan langsung, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan pesawat tak berawak ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk.

Di Bahrain, serangan drone menghantam tangki penyimpanan bahan bakar utama dan menyebabkan kebakaran hebat. Sementara itu, otoritas di Uni Emirat Arab mengonfirmasi adanya kebakaran di pabrik petrokimia akibat serangan serupa.

Iran juga mengungkapkan bahwa serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan korban jiwa di dalam negeri.

Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas dan 170 lainnya luka-luka dalam serangan di kawasan petrokimia Mahshahr.

Selain itu, lebih dari 30 universitas disebut menjadi sasaran sejak awal konflik berlangsung.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran luas di kawasan Timur Tengah. Qatar dan Kuwait pun langsung menggelar pembicaraan tingkat tinggi untuk membahas perkembangan situasi.

Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyampaikan solidaritas penuh kepada Kuwait menyusul serangan Iran terhadap fasilitas energi negara tersebut.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dari eskalasi yang semakin meluas.

Dalam pernyataannya, Qatar memperingatkan bahwa tindakan Iran yang menargetkan infrastruktur vital, seperti fasilitas air, pangan, dan energi, dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi keamanan regional.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap potensi konflik besar.

Situasi ini menempatkan Timur Tengah dalam kondisi yang sangat rentan. Ancaman terbuka dari Amerika Serikat, klaim militer Iran, serta serangan terhadap fasilitas energi menunjukkan bahwa konflik tidak lagi bersifat terbatas, melainkan berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua pihak, apakah akan memilih jalur konfrontasi atau kembali ke meja perundingan.(wib)