Kinerja PT Timah Tbk 2025 Tumbuh Positif, Harga Timah Jadi Penopang di Tengah Tekanan Produksi
Kinerja PT Timah Tbk (TINS) sepanjang 2025 tumbuh positif dengan laba Rp1,31 triliun, ditopang kenaikan harga timah global meski produksi menurun.

HALLONEWS.ID – PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025 dengan pendapatan mencapai Rp11,55 triliun, tumbuh sekitar 6,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga jual rata-rata logam timah yang meningkat signifikan, sehingga mampu menopang kinerja keuangan di tengah berbagai tantangan operasional.
Dari sisi profitabilitas, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau melampaui target RKAP 2025. Laba usaha tercatat Rp1,91 triliun dengan EBITDA mencapai Rp2,76 triliun.
Meski demikian, tekanan biaya mulai terlihat dari kenaikan beban pokok pendapatan yang meningkat lebih dari 8% secara tahunan.
Secara neraca, fundamental perusahaan menunjukkan penguatan dengan total aset naik menjadi Rp13,64 triliun dan ekuitas tumbuh lebih dari 10% menjadi Rp8,41 triliun.
Hal ini mencerminkan posisi keuangan yang relatif stabil meskipun liabilitas juga mengalami sedikit kenaikan. Namun, dari sisi operasional, kinerja produksi justru mengalami penurunan.
Produksi bijih timah turun 4%, sementara produksi logam dan penjualan masing-masing terkoreksi 6% dan 5%. Kondisi ini dipengaruhi oleh maraknya aktivitas penambangan ilegal serta berbagai hambatan sosial di area ekspansi tambang.
Sebaliknya, kenaikan harga timah global hingga 13% menjadi faktor utama yang menjaga kinerja tetap positif. Perseroan juga masih mengandalkan pasar ekspor sebagai kontributor utama dengan porsi mencapai 95%, terutama ke negara-negara Asia dan Eropa.
Memasuki 2026, TINS menargetkan pemulihan produksi secara agresif serta memperkuat strategi hilirisasi dan efisiensi operasional, termasuk melalui transformasi digital dan penerapan prinsip ESG.
Kinerja TINS saat ini menunjukkan fenomena yang cukup menarik, di mana pertumbuhan laba lebih banyak ditopang oleh faktor eksternal yaitu kenaikan harga komoditas, bukan dari peningkatan volume produksi.
Ini sinyal penting. Artinya, secara fundamental operasional masih ada tekanan. Kalau harga timah turun, kinerja bisa langsung tertekan.
Fokus utama investor ke depan adalah kemampuan perusahaan dalam mengeksekusi pemulihan produksi dan strategi hilirisasi. Kalau TINS berhasil meningkatkan volume sekaligus menjaga efisiensi, maka potensi upside masih terbuka. Tapi kalau tidak, kinerja akan sangat bergantung pada siklus harga komoditas. (Yesaya Christofer/Yes Invest)
Disclaimer
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.
Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.
