Tabrakan Maut Argo Bromo Hantam KRL di Bekasi Timur, Pengamat Soroti Sistem Persinyalan

Berkaca dari tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur, pengamat Joni Martinus soroti sistem persinyalan dan dorong KNKT investigasi menyeluruh.

Selasa, 28 April 2026 - 10:30 WIB
Tabrakan Maut Argo Bromo Hantam KRL di Bekasi Timur, Pengamat Soroti Sistem Persinyalan
Sejumlah penumpang terjepit dalam Kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam. Foto: Hallonews/Abdullah MS

HALLONEWS ID – Pengamat transportasi publik, yang juga mantan VP KAI Daop 1 Joni Martinus menanggapi insiden kecelakaan kereta api terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL TM 5568A yang tengah berhenti di peron.

Joni mengatakan benturan keras membuat sejumlah gerbong mengalami kerusakan, disertai kepulan asap di lokasi kejadian. “Peristiwa ini juga berdampak pada terganggunya operasional jalur padat di wilayah Daop 1 Jakarta,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Hallonews di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Sorotan Sistem Persinyalan

Pengamat transportasi, Joni Martinus, menilai insiden ini perlu ditelusuri secara serius, terutama terkait sistem persinyalan.

Ia menjelaskan, sistem absolute block pada perkeretaapian Indonesia seharusnya memastikan sinyal tetap merah jika masih ada kereta di jalur yang sama.

“Jika kereta bisa masuk hingga menabrak rangkaian di depannya, ini harus menjadi perhatian serius untuk investigasi,” ujarnya.

Dugaan Penyebab Kecelakaan

Menurut Joni, terdapat sejumlah kemungkinan faktor yang dapat memicu tabrakan dari belakang, antara lain:

* Pelanggaran sinyal merah (signal passed at danger)
* Gangguan sistem persinyalan (wrong side failure)
* Miskomunikasi dalam penerapan prosedur perjalanan
* Penyimpangan operasional
* Masalah teknis, seperti kegagalan sistem pengereman
* Faktor manusia, termasuk menurunnya konsentrasi masinis

Dorong Investigasi dan Evaluasi

Joni menyampaikan duka atas insiden yang menimbulkan korban jiwa, serta mendorong Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk segera melakukan investigasi menyeluruh.

Ia menekankan pentingnya evaluasi total, mulai dari peningkatan kualitas SDM, disiplin prosedur operasional, hingga keandalan sarana dan prasarana.

“Transportasi adalah bisnis keselamatan. Tidak boleh ada kompromi terhadap aspek ini,” tegasnya.

Apresiasi Respons Cepat

Di sisi lain, Joni mengapresiasi respons cepat dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), KAI Commuter, serta aparat gabungan seperti Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dalam proses evakuasi korban dan penanganan material kereta.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sistem keselamatan transportasi, guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (agn)