Iran Sebut AS Masih Ajukan Tuntutan Tak Masuk Akal, Negosiasi Perdamaian Kembali Memanas

Iran menyebut AS masih mengajukan tuntutan tidak masuk akal dalam negosiasi perdamaian perang Iran-Israel. Ketegangan memanas terkait isu nuklir dan sanksi ekonomi.

Selasa, 12 Mei 2026 - 6:00 WIB
Iran Sebut AS Masih Ajukan Tuntutan Tak Masuk Akal, Negosiasi Perdamaian Kembali Memanas
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei (X Iran Embassy in Indonesia for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Pemerintah Iran menegaskan Amerika Serikat masih mengajukan tuntutan yang dinilai tak masuk akal dalam proses negosiasi untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya diplomasi yang terus berlangsung melalui sejumlah mediator internasional, termasuk Pakistan. Teheran sebelumnya telah mengirimkan proposal balasan terhadap rencana perdamaian yang diajukan Washington.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Iran tetap membuka ruang dialog, namun menolak tekanan sepihak dari Amerika Serikat.

“Iran menginginkan solusi diplomatik, tetapi pihak Amerika harus menghentikan tuntutan yang tidak realistis,” ujar Baghaei seperti dikutip Al Jazeera, Senin (11/5/2026).

Iran meminta sejumlah syarat dipenuhi sebelum kesepakatan damai tercapai. Di antaranya penghentian serangan militer, pencabutan sanksi ekonomi, pembukaan jalur perdagangan laut, hingga pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menolak proposal balasan yang dikirim Iran.

Washington menilai proposal tersebut belum menjawab tuntutan utama terkait penghentian program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Ketegangan juga meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer tidak akan berhenti sebelum uranium hasil pengayaan Iran dipindahkan dari wilayah Iran.

Israel dan Amerika Serikat selama ini menuduh program nuklir Iran berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir. Namun Teheran berkali-kali membantah tuduhan tersebut dan menyebut program nuklir mereka hanya untuk kepentingan energi dan sipil.

Situasi perang yang terus berlangsung turut memicu kekhawatiran global, terutama terkait keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Ketidakstabilan di kawasan itu dikhawatirkan memengaruhi harga energi internasional dan rantai pasok global.

Meski negosiasi berlangsung alot, sejumlah negara mediator masih berupaya mendorong tercapainya gencatan senjata guna mencegah konflik berkembang menjadi perang regional berskala lebih luas. (wib)