Museum Pajajaran Didorong Jadi Pusat Literasi Sejarah dan Wisata Edukasi di Kota Bogor

Museum Pajajaran didorong menjadi ruang budaya yang hidup, pusat literasi sejarah, dan destinasi wisata edukasi melalui penguatan narasi sejarah serta kajian naskah kuno

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:02 WIB
Museum Pajajaran Didorong Jadi Pusat Literasi Sejarah dan Wisata Edukasi di Kota Bogor
Museum Pajajaran di Batutulis Bogor menyimpan sejarah. (Hallonews)

HALLONEWS.ID – Museum Pajajaran diharapkan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda bersejarah.

Museum tersebut didorong berkembang menjadi ruang budaya yang aktif, pusat literasi sejarah, sekaligus destinasi wisata edukasi yang mampu menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor, Taufik Hassunna, bersama Muhamad Alnoza dari Bujangga Manik Society.

Menurut Taufik Hassunna, penguatan fungsi Museum Pajajaran merupakan bagian dari upaya menghadirkan paradigma baru dalam pengelolaan museum.

Ia menilai museum harus mampu membangun hubungan yang lebih dekat antara masyarakat dengan sejarah dan identitas Kota Bogor.

“Museum harus menjadi ruang yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdialog, dan memahami akar sejarahnya,” ujar Taufik kepada wartawan Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, anggapan bahwa museum merupakan tempat yang kuno, sunyi, bahkan terkesan menyeramkan perlu diubah melalui penyajian koleksi yang lebih interaktif dan menarik.

Dengan konsep tersebut, museum diharapkan menjadi destinasi wisata budaya yang mampu menghadirkan pengalaman belajar sejarah secara menyenangkan.

Taufik juga menekankan pentingnya memperkuat narasi sejarah melalui berbagai sumber tertulis, seperti prasasti, naskah kuno, hingga hasil penelitian akademik.

Menurutnya, dokumen-dokumen tersebut menjadi dasar dalam menjelaskan makna setiap koleksi sehingga pengunjung tidak hanya melihat benda bersejarah, tetapi juga memahami kisah yang melatarbelakanginya.

Sementara itu, Muhamad Alnoza dari Bujangga Manik Society menyampaikan bahwa naskah-naskah kuno memiliki peran penting dalam merekonstruksi identitas Kerajaan Pajajaran yang kini sudah tidak lagi tampak secara fisik.

Melalui kajian filologi, isi naskah dapat diterjemahkan menjadi narasi, visualisasi, hingga pengalaman interaktif yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah, Museum Pajajaran menggelar diskusi bertajuk “Membedah Kembali Tritangtu: Eksistensinya di Tatar Sunda, Lintas Teks dan Lintas Zaman”.

museum
Museum Pajajaran di Batutulis Bogor menyimpan sejarah. (Hallonews)

Dalam kegiatan tersebut, filolog dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dr. Aditia Gunawan, memaparkan konsep Tritangtu berdasarkan naskah-naskah Sunda Kuno serta menjelaskan relevansinya dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Melalui kegiatan diskusi dan dialog seperti ini, Museum Pajajaran diharapkan semakin dikenal sebagai ruang belajar yang dinamis, tempat masyarakat memperdalam sejarah, berdiskusi, sekaligus memperkuat identitas budaya Tatar Sunda. (opy)