Menelusuri Sejarah Penobatan Sri Baduga Maharaja Hingga Lahirnya Bogor Modern

Hari Jadi Bogor ke-544 diperingati pada 3 Juni 2026. Peringatan ini berakar dari penobatan Sri Baduga Maharaja pada 1482 yang menjadi tonggak sejarah berdirinya Bogor.

Rabu, 3 Juni 2026 - 18:30 WIB
Menelusuri Sejarah Penobatan Sri Baduga Maharaja Hingga Lahirnya Bogor Modern
Logo HJB melalui spanduk, memenuhi semua sudut kota Bogor. Foto: Hallonews/Yopy Doroh

HALLONEWS.ID – Kota dan Kabupaten Bogor memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 pada Rabu, 3 Juni 2026.

Momentum tahunan ini menjadi pengingat perjalanan panjang sejarah Bogor yang berakar dari masa kejayaan Kerajaan Pajajaran lebih dari lima abad lalu.

Tanggal 3 Juni ditetapkan sebagai Hari Jadi Bogor berdasarkan peristiwa penobatan Sri Baduga Maharaja sebagai Raja Pajajaran pada 3 Juni 1482.

Penobatan tersebut dilaksanakan melalui upacara Kedabhakti atau Kuwedabhakti yang berlangsung selama sembilan hari berturut-turut.

Peristiwa tersebut tidak hanya menjadi simbol pengakuan terhadap kepemimpinan baru di Kerajaan Pajajaran, tetapi juga dianggap sebagai tonggak awal terbentuknya tatanan pemerintahan di wilayah yang kini dikenal sebagai Bogor.

Selama masa pemerintahannya pada 1482 hingga 1521, Sri Baduga Maharaja berhasil membawa Kerajaan Pajajaran mencapai masa kejayaan.

Ia dikenal sebagai salah satu raja paling berpengaruh dalam sejarah Kerajaan Sunda karena keberhasilannya membangun stabilitas politik dan kemajuan wilayah kekuasaan.

Beragam Versi Asal Usul Nama Bogor

Sejarah nama Bogor juga menyimpan sejumlah versi yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu pendapat menyebut nama Bogor berasal dari istilah Buitenzorg yang digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk menyebut kawasan tersebut.

Versi lain mengaitkan nama Bogor dengan kata Bahai yang berarti sapi. Pendapat ini dikaitkan dengan keberadaan patung sapi yang masih dapat ditemukan di kawasan Kebun Raya Bogor.

Selain itu, ada pula yang meyakini nama Bogor berasal dari kata Bokor yang berarti tunggul pohon enau atau kawung, tanaman yang dahulu banyak tumbuh di wilayah tersebut.

Pendapat lainnya menyebut nama Bogor berasal dari istilah Hoofd Van de Negorij Bogor yang berarti Kepala Kampung Bogor. Kampung tersebut diyakini berada di kawasan yang saat ini menjadi Kebun Raya Bogor.

Perkembangan Wilayah dari Kampung Bogor hingga Kabupaten Bogor

Perkembangan Bogor modern tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan kolonial pada abad ke-18. Pada 1745, Gubernur Jenderal Gustaf Willem Baron van Imhoff mulai mengembangkan Kampung Bogor secara bertahap hingga tumbuh menjadi kawasan permukiman dan pemerintahan yang lebih besar.

Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor.

Pertumbuhan wilayah berlangsung sejalan dengan meningkatnya aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan permukiman penduduk.

Berdasarkan kajian sejarah tersebut, DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor melalui sidang pleno pada 26 Mei 1972 menetapkan tanggal 3 Juni sebagai Hari Jadi Bogor.

Sejak saat itu, peringatan HJB dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

Perjalanan Kabupaten Bogor juga ditandai dengan pemindahan pusat pemerintahan dari Kota Bogor ke Cibinong.

Kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982 untuk meningkatkan efektivitas pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan.

Sejak 1990, kompleks perkantoran pemerintah Kabupaten Bogor mulai beroperasi di Cibinong dan hingga kini tetap menjadi pusat administrasi pemerintahan daerah.

Peringatan Hari Jadi Bogor tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga sarana memperkuat identitas daerah.

Berbagai kegiatan budaya dan kemasyarakatan biasanya digelar untuk memeriahkan peringatan tersebut.

Rangkaian acara meliputi upacara peringatan, bazar kuliner, arak-arakan jampana, festival budaya, hingga pertunjukan seni tradisional dan modern.

Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan serta memperkuat semangat gotong royong masyarakat Bogor.

Melalui peringatan Hari Jadi Bogor ke-544, masyarakat diajak untuk terus menghargai warisan sejarah sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah menuju masa depan yang lebih maju. (opy)