Gempa M 6,2 di Sulut Tak Berpotensi Tsunami, Cincin Api Baik-baik Saja

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 terjadi di 198 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Rabu, 15 Juli 2026 - 9:40 WIB
Gempa M 6,2 di Sulut Tak Berpotensi Tsunami, Cincin Api Baik-baik Saja
Infografis gempa bumi di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. (BMKG for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 terjadi di 198 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Selasa (14/7/2026) pukul 22.49.37 WIB.

Gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan peristiwa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG.

Dalam keterangannya pada Rabu (15/7/2026), Daryono menjelaskan bahwa belakangan ini muncul anggapan di masyarakat bahwa Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) sedang mengalami peningkatan aktivitas menyusul rentetan gempa yang terjadi di berbagai negara, mulai dari Venezuela, Jepang, California Utara, Filipina, hingga Indonesia Timur selama Juni 2026.

Menurutnya, persepsi tersebut wajar secara psikologis. Namun, dari sisi ilmu seismologi, gempa-gempa yang terjadi di lokasi berjauhan merupakan proses pelepasan energi lempeng tektonik yang berlangsung secara mandiri, bersifat lokal, dan merupakan aktivitas normal.

“Secara ilmiah, sebenarnya tidak ada peningkatan aktivitas gempa yang tidak biasa di Cincin Api Pasifik. Wilayah ini memang menjadi lokasi sekitar 90 persen gempa bumi di dunia, sehingga guncangan merupakan aktivitas yang wajar terjadi setiap hari,” ujar Daryono.

Ia mengutip data U.S. Geological Survey (USGS) yang mencatat sekitar 500.000 gempa bumi terjadi setiap tahun di seluruh dunia, termasuk gempa-gempa kecil yang tidak dirasakan manusia namun terekam oleh instrumen.

Karena sekitar 90 persen gempa tersebut terjadi di kawasan Cincin Api Pasifik, maka wilayah ini mengalami sekitar 450.000 gempa setiap tahun atau rata-rata sekitar 1.200 gempa setiap hari.

Daryono menegaskan bahwa Cincin Api Pasifik pada dasarnya tidak pernah benar-benar “tidur”.

Instrumen seismik di berbagai negara terus merekam ribuan getaran kecil setiap hari sebagai bagian dari aktivitas alami bumi.

Ia menjelaskan, anggapan bahwa gempa semakin sering terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni fenomena klasterisasi waktu, ketika beberapa gempa besar terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, serta pesatnya penyebaran informasi melalui media sosial dan aplikasi pemantau gempa.

Menurutnya, dahulu gempa bermagnitudo sekitar 6,0 di wilayah terpencil seperti Tonga, Kamchatka, Chili, atau lepas pantai Jepang mungkin hanya diketahui kalangan ilmuwan.

Kini, informasi gempa dapat tersebar dalam hitungan menit melalui notifikasi aplikasi, grup percakapan, hingga berbagai platform media sosial.

“Yang meningkat bukan frekuensi gempanya, melainkan intensitas penyebaran informasinya. Hal itu menciptakan ilusi seolah-olah aktivitas gempa sedang meningkat tajam,” jelasnya.

Daryono juga menyebut bahwa dalam ilmu statistik dan seismologi dikenal adanya fase ketika beberapa gempa kuat terjadi hampir bersamaan secara kebetulan.

Setelah periode tersebut, aktivitas biasanya kembali memasuki fase yang lebih tenang sebagai bagian dari siklus alami pelepasan energi lempeng tektonik.

Selain itu, jumlah stasiun pemantau gempa di dunia terus bertambah dengan teknologi yang semakin sensitif.

Kondisi ini membuat gempa-gempa kecil maupun gempa di wilayah terpencil yang sebelumnya tidak terdeteksi kini dapat direkam secara akurat oleh berbagai lembaga pemantau seperti USGS, GFZ, EMSC, maupun BMKG.

“Data memang terlihat semakin banyak, tetapi itu terjadi karena kemampuan deteksi yang semakin baik, bukan karena bumi menjadi lebih aktif. Rentetan gempa yang sering diberitakan belakangan ini pada dasarnya merupakan aktivitas rutin Cincin Api Pasifik dalam melepaskan energi secara alami,” tegas Daryono. (opy)