700 Kapal, Satu Harapan: Doa Nelayan Muaragembong Menggema di Laut Jawa

Tradisi Nadran kembali digelar di Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Sebanyak 700 kapal nelayan mengiringi larung sesaji sebagai wujud syukur dan harapan akan hasil laut.

Rabu, 15 Juli 2026 - 9:29 WIB
OFF
700 Kapal, Satu Harapan: Doa Nelayan Muaragembong Menggema di Laut Jawa
Ratusan kapal nelayan mengiringi prosesi larung sesaji dalam tradisi Nadran di perairan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. (Foto: Hallonews)

HALLONEWS.ID – Sejak kemarin pagi, perairan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, berubah menjadi lautan warna. Ratusan kapal nelayan berbaris rapat, dihiasi bendera dan ornamen sederhana, lalu bergerak perlahan menuju tengah laut.

Bukan untuk mencari ikan, melainkan mengantarkan doa dan rasa syukur dalam tradisi Nadran, pesta laut yang telah diwariskan turun-temurun. Sedikitnya 700 hingga 800 kapal ikut mengiringi prosesi larung sesaji di perairan Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong.

Suara mesin kapal berpadu dengan lantunan doa, menciptakan suasana khidmat sekaligus meriah di tengah hamparan Laut Jawa. Bagi masyarakat pesisir, Nadran bukan sekadar perayaan tahunan.

Tradisi ini menjadi momentum mengucap syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan sekaligus memohon keselamatan dan rezeki melimpah untuk musim melaut berikutnya.

Ketua Panitia Nadran 2026 Rasim mengatakan prosesi utama dilakukan dengan melarung sesaji berupa kepala kerbau di titik yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Kampung Muara Bendera, lokasi keberangkatan seluruh peserta.

“Melalui tradisi ini kami bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT sekaligus berharap hasil tangkapan nelayan semakin melimpah sehingga bisa terus menghidupi keluarga,” kata Rasim, Rabu (15/7/2026).

Bagi nelayan Muaragembong, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang kehidupan yang harus dihormati. Karena itu, tradisi Nadran terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Bekasi.

Tahun ini menjadi momen istimewa. Setelah sempat tidak digelar pada 2025 akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG yang membuat banyak nelayan tidak melaut, pesta laut kembali berlangsung dengan antusiasme yang jauh lebih besar.

Menurut Rasim, jumlah peserta tahun ini menjadi yang terbanyak dalam beberapa tahun terakhir. Hampir seluruh nelayan di kawasan Muaragembong ikut ambil bagian bersama keluarga dan warga sekitar.

“Kami terakhir mengadakan pada 2024. Tahun lalu terpaksa ditiadakan karena banyak nelayan tidak melaut akibat sulit mendapatkan BBM dan LPG. Tahun ini alhamdulillah bisa kembali dan lebih meriah,” ungkapnya.

Di balik kemeriahan itu, ada perjuangan masyarakat yang patut diapresiasi. Hampir seluruh biaya penyelenggaraan Nadran berasal dari swadaya warga dan para nelayan tanpa dukungan anggaran yang signifikan dari pemerintah.

Meski demikian, semangat menjaga tradisi tidak pernah surut. Bagi mereka, Nadran adalah warisan budaya yang harus tetap hidup agar generasi muda mengenal akar kehidupan masyarakat pesisir.

Rasim berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap pelestarian tradisi lokal yang telah menjadi bagian dari identitas Muaragembong.
Di tengah kemeriahan pesta laut, nelayan juga menyuarakan persoalan yang belum terselesaikan, yakni sulitnya memperoleh BBM dan LPG dengan harga terjangkau. Padahal, bahan bakar menjadi kebutuhan utama untuk menggerakkan kapal-kapal nelayan setiap hari.

Tidak sedikit kapal berukuran kecil yang kini bergantung pada LPG untuk melaut. ”Kendala utama kami tetap BBM yang sering sulit didapat dan harganya mahal. LPG juga masih susah diperoleh, padahal banyak kapal kecil menggunakannya,” tutur Rasim.

Bagi nelayan Muaragembong, Nadran bukan hanya seremoni tahunan.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di balik hasil laut yang dinikmati banyak orang, ada harapan, doa, serta perjuangan panjang masyarakat pesisir yang terus bertahan menjaga warisan budaya sekaligus menggantungkan hidup pada luasnya lautan. (dul)