BBM Langka Picu Anteran di SPBU Medan, Komisi XII Desak Pertamina Turun Benahi Distribusi
Antrean panjang BBM terjadi di sejumlah SPBU di Sumatera Utara. DPR mendesak distribusi segera dibenahi, sementara pemerintah memastikan stok BBM nasional tetap aman.

HALLONEWS.ID – Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sumatera Utara memicu kepanikan. Di Kota Medan, barisan sepeda motor yang mengular hingga ke badan jalan bahkan menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas.
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di SPBU Jalan Jamin Ginting. Puluhan pengendara terlihat mengantre hingga memakan sebagian badan jalan sehingga mengganggu arus lalu lintas.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Sumatera Utara.
Beberapa SPBU mengalami antrean panjang, sementara sebagian lainnya sempat menghentikan pelayanan karena stok BBM habis. Situasi tersebut membuat aktivitas masyarakat ikut terganggu.
Warga harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan BBM, sementara kepadatan kendaraan di sekitar SPBU semakin memperparah kemacetan.
Di tengah kondisi itu, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara menyatakan distribusi BBM tetap berjalan normal. Namun, kondisi di lapangan memunculkan pertanyaan karena antrean masih terjadi di berbagai titik.
Menanggapi persoalan tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI Sigit K. Yunianto meminta pemerintah memastikan pasokan BBM tetap tersedia dan distribusinya berjalan lancar di seluruh Indonesian termasuk di Sumut.
Menurutnya, ketersediaan BBM bukan hanya menyangkut kebutuhan transportasi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dari ketahanan energi nasional.
“Ketersediaan BBM dan batu bara bagi pembangkit listrik merupakan hal mendasar yang harus kita jaga bersama. Ini bukan hanya soal listrik, melainkan juga ketahanan energi nasional secara keseluruhan,” kata Sigit dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
Politikus PDI Perjuangan itu menilai pemerintah bersama badan usaha di sektor energi perlu memperkuat koordinasi agar gangguan distribusi dapat diantisipasi lebih awal.”Kami (DPR) mendesak pemeintah benahi distribusi BBM,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia belum lama ini menegaskan, bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman meski situasi geopolitik dunia masih bergejolak.
Menurut Bahlil, pemerintah telah mengubah strategi impor minyak untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah yang selama ini melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran yang rawan terdampak konflik.
“Sebagai langkah antisipasi, sebagian impor minyak dialihkan ke sejumlah negara di Afrika dan Amerika Latin agar pasokan energi nasional tetap terjaga,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak dalam negeri hanya berkisar 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari. Kekurangan sekitar satu juta barel dipenuhi melalui impor.
Menurut Bahlil, kebijakan diversifikasi sumber impor tersebut membuat cadangan BBM nasional tetap aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar.
Selain memastikan stok tetap tersedia, pemerintah juga menegaskan harga BBM bersubsidi akan dipertahankan meski harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi global sekaligus memperkuat sistem distribusi agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi dan gangguan pasokan di daerah tidak berlarut-larut. (dul)
