20 Tahun Tsunami Pangandaran: Megathrust Ancaman Nyata, Kesiapsiagaan Bisa Selamatkan Nyawa
Dua dekade pascatsunami Pangandaran 2006, BMKG mengingatkan ancaman megathrust di selatan Jawa masih nyata. Kesiapsiagaan menjadi kunci menyelamatkan nyawa

HALLONEWS.ID – Dua puluh tahun setelah Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa ancaman gempa megathrust dan tsunami di pantai selatan Jawa masih nyata.
Peristiwa yang menewaskan lebih dari 668 orang tersebut menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan masyarakat merupakan faktor utama dalam menyelamatkan nyawa.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus pakar gempa BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa tsunami Pangandaran dipicu gempa megathrust berkekuatan magnitudo 7,7 di zona subduksi selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Gempa tersebut tergolong tsunami earthquake, yaitu jenis gempa yang menghasilkan tsunami besar meski guncangannya di daratan relatif lemah.
“Peristiwa ini menunjukkan bahwa gempa yang terasa lemah bukan berarti tidak berbahaya. Justru tsunami yang ditimbulkan dapat sangat merusak,” ujar Daryono, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, terdapat sejumlah pelajaran penting yang harus dipahami masyarakat dari tragedi tersebut.
Pertama, masyarakat perlu mengenali karakter ancaman megathrust dan memahami bahwa evakuasi harus segera dilakukan setelah terjadi gempa di wilayah pantai, tanpa menunggu guncangan terasa kuat.
Kedua, tsunami dapat terjadi meski guncangan gempa tidak terlalu kuat. Karena itu, siapa pun yang berada di kawasan pesisir harus segera menjauh ke tempat yang lebih tinggi begitu merasakan gempa.
Ketiga, waktu kedatangan tsunami sangat singkat. Pada peristiwa Pangandaran, gelombang tsunami mencapai pantai sekitar 15 hingga 20 menit setelah gempa terjadi. Kondisi itu membuat evakuasi mandiri berdasarkan tanda-tanda alam (natural warning) jauh lebih penting daripada menunggu informasi resmi.
Keempat, edukasi masyarakat dinilai lebih menentukan daripada teknologi semata. Meski sistem peringatan dini, aplikasi informasi, dan sirene sangat penting, pemahaman masyarakat terhadap tanda-tanda tsunami menjadi faktor penyelamat utama.
Kelima, kawasan wisata pantai memiliki risiko korban yang lebih besar. Saat tsunami Pangandaran terjadi, kawasan pantai dipenuhi wisatawan yang tidak memahami jalur evakuasi.
Oleh karena itu, setiap destinasi wisata pesisir perlu dilengkapi jalur evakuasi, papan petunjuk, titik kumpul, serta edukasi mengenai ancaman tsunami.
Pelajaran berikutnya adalah pentingnya memastikan jalur evakuasi mudah dijangkau. Dengan tinggi gelombang tsunami yang saat itu mencapai 5–8 meter, bahkan lebih dari 10 meter di beberapa lokasi, masyarakat hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan diri.
Daryono juga menegaskan bahwa korban terbesar dalam peristiwa tersebut disebabkan oleh tsunami, bukan akibat guncangan gempa.
Hal itu menunjukkan bahwa mitigasi di wilayah pesisir harus memberi perhatian yang sama besar terhadap ancaman tsunami.
Selain itu, tsunami Pangandaran membuktikan bahwa seluruh pantai selatan Jawa berada di kawasan subduksi megathrust aktif.
Dampak bencana saat itu dirasakan mulai dari Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Bantul. Karena itu, seluruh daerah pesisir selatan Jawa perlu membangun budaya siaga tsunami secara berkelanjutan.
Daryono menambahkan, dalam dua dekade terakhir Indonesia telah memperkuat sistem mitigasi melalui pengembangan sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya tsunami, jalur evakuasi, Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami, hingga program Tsunami Ready UNESCO di sejumlah wilayah.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa upaya tersebut belum selesai.
“Keberhasilan penanggulangan tsunami bukan diukur dari banyaknya korban yang berhasil diselamatkan setelah bencana, tetapi dari sedikitnya korban yang harus diselamatkan karena masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang,” katanya.
Daryono menilai peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran harus menjadi momentum memperkuat budaya kesiapsiagaan masyarakat pesisir.
Ia menyampaikan lima pesan utama kepada masyarakat, yakni mengingat bahwa tsunami tetap menjadi ancaman nyata di pantai selatan Jawa, segera melakukan evakuasi ke tempat tinggi setiap kali terjadi gempa di pantai, mengenali tanda-tanda alam seperti gempa yang berlangsung lama, air laut surut mendadak, dan suara gemuruh dari laut, memanfaatkan teknologi peringatan dini yang didukung budaya kesiapsiagaan, serta membangun generasi yang siap menghadapi tsunami melalui pengetahuan, latihan, dan evakuasi yang cepat. (opy)
