Pramono Anung: Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59 Persen di Tengah Krisis Global
Di tengah tekanan ekonomi global, Jakarta mencatat pertumbuhan positif, inflasi terkendali, serta kepercayaan konsumen yang terus meningkat.

HALLONEWS.ID – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan kondisi ekonomi Ibu Kota menunjukkan sinyal yang semakin positif sepanjang Triwulan II 2026.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Jakarta justru mencatat pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, hingga tingkat kepercayaan masyarakat yang tetap tinggi.
Menurut Pramono, capaian tersebut menjadi bukti bahwa perekonomian Jakarta mampu bertahan di tengah berbagai tekanan yang masih membayangi kondisi nasional maupun internasional.
“Optimisme harus terus dijaga. Ketika masyarakat dan pelaku usaha tetap percaya terhadap kondisi ekonomi, maka pertumbuhan akan terus bergerak positif,” ujar Pramono saat memaparkan realisasi APBD Triwulan II Tahun 2026 di Gedung Balai Kota, Jakarta Pusat pada Rabu (22/7/2026).
Lanjutnya, Pemprov DKI mencatat pertumbuhan ekonomi Jakarta pada semester pertama 2026 mencapai 5,59 persen secara tahunan (year on year).
Angka tersebut ditopang oleh tingginya aktivitas konsumsi masyarakat, meningkatnya kegiatan usaha, serta kepercayaan pelaku ekonomi yang tetap terjaga meski situasi global masih dipenuhi ketidakpastian.
Sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian Jakarta dengan porsi 18,06 persen.
Di belakangnya menyusul sektor jasa keuangan sebesar 11,08 persen dan industri pengolahan sebesar 10,96 persen.
Sementara dari sisi pertumbuhan, sektor akomodasi dan penyediaan makan minum menjadi yang paling melesat dengan kenaikan 10,84 persen, disusul sektor jasa lainnya sebesar 8,37 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,31 persen.
Pramono juga menyoroti tingginya tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi Jakarta.
Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang pada Juni 2026 berada di angka 144,4, jauh berada di zona optimistis.
“Tingginya kepercayaan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global,” kata Pramono.
Ia menuturkan, daya beli warga juga menunjukkan tren yang terus menguat.
Penjualan riil di Jakarta pada Juni 2026 tumbuh 8,19 persen, menandakan aktivitas konsumsi masyarakat masih berlangsung cukup tinggi.
“Selama optimisme masyarakat tetap terjaga, roda ekonomi akan terus bergerak dan dunia usaha akan semakin percaya untuk berinvestasi,” tutur Pramono.
Pramono menegaskan posisi Jakarta masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Kontribusi Jakarta terhadap produk domestik nasional mencapai sekitar 16,67 persen, sehingga setiap pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Ibu Kota akan memberikan dampak langsung terhadap ekonomi nasional.
“Karena itu, Pemprov DKI terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui pengelolaan APBD yang sehat, percepatan pembangunan, serta kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat,” ucapnya.
Di sisi lain, Pramono menegaskan transformasi Jakarta sebagai kota global akan terus dilanjutkan.
Menurutnya, meski status ibu kota negara telah bergeser, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, pusat keuangan, sekaligus salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia.
Karena itu, pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, hingga penguatan iklim investasi akan terus dipercepat agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kota global bukan sekadar status. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat ikut merasakan manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat,” pungkas Pramono. (fer)
