Bapanas Klaim Jagung, Gula hingga Telur Ayam Surplus Jelang El Nino

Pemerintah memproyeksikan sejumlah komoditas pangan strategis seperti jagung, gula, dan telur ayam akan surplus pada Mei 2026.

Selasa, 7 April 2026 - 20:16 WIB
Bapanas Klaim Jagung, Gula hingga Telur Ayam Surplus Jelang El Nino
Kepala Badan Pangan Nasional Amran Sulaiman menyampaikan paparan terkait proyeksi surplus pangan nasional di Gedung DPR, Jakarta. Foto: Kementan for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah memproyeksikan sejumlah komoditas pangan strategis nasional akan berada dalam kondisi surplus menjelang pertengahan tahun 2026, meskipun di tengah ancaman perubahan iklim akibat fenomena El Nino.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, menyatakan bahwa komoditas seperti jagung, gula konsumsi, telur ayam, dan daging ayam diperkirakan mengalami surplus hingga Mei 2026 berdasarkan neraca pangan nasional.

“Berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional hingga Mei 2026, pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman,” ujar Amran dalam Rapat Kerja di DPR, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan nasional dalam menghadapi tantangan global, termasuk dinamika geopolitik dan ancaman musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang kerap disebut “Godzilla”.

Amran merinci, gula konsumsi diproyeksikan surplus sekitar 632 ribu ton dengan ketersediaan mencapai 1,81 juta ton dan kebutuhan sebesar 1,18 juta ton.

Sementara itu, daging ayam diperkirakan surplus 837 ribu ton, dengan suplai mencapai 2,52 juta ton dibanding kebutuhan 1,68 juta ton.

Untuk telur ayam, pasokan nasional diprediksi surplus sekitar 423 ribu ton dari total ketersediaan 3,16 juta ton dan kebutuhan 2,73 juta ton.

Adapun jagung mencatat surplus paling besar, yakni sekitar 4,35 juta ton dengan proyeksi produksi mencapai 11,49 juta ton dan kebutuhan sebesar 7,13 juta ton.

Selain memastikan ketersediaan pasokan, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga pangan di tengah momentum pasca Ramadan dan Idulfitri.

Amran menyebut sejumlah komoditas utama seperti beras medium, beras SPHP, kedelai, dan bawang putih menunjukkan tren harga yang relatif stabil pada periode 21 Maret hingga 5 April 2026, dengan rata-rata harga berada 3 hingga 7 persen di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP).

Bahkan, harga cabai merah keriting tercatat berada sekitar 18 persen di bawah HET, menandakan kondisi pasar yang cukup terkendali.

“Secara umum, harga pangan terkendali. Di saat bulan puasa, beberapa harga komoditas berada di atas HET tapi tetap terkendali, dan inflasi pangan pun menunjukkan penurunan menjadi 1,58 persen di Maret 2026,” kata Amran.

Pemerintah optimistis kombinasi antara ketersediaan pasokan yang memadai dan stabilitas harga akan mampu menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan perubahan iklim dan dinamika global. (agn)