Komunitas BBS Pertanyakan Pembebasan Lahan Jembatan Otista

Dampak pembangunan jembatan Otista, Bogor, turunan jadi licin dan rawan saat hujan. Air dari badan jembatan mengalir deras ke arah turunan gang.

Sabtu, 14 Februari 2026 - 14:00 WIB
Komunitas BBS Pertanyakan Pembebasan Lahan Jembatan Otista
Jalan yang licin serta bangunan yang sudah mendapat ganti rugi di samping jembatan Otista, Bogor, sampai masih berdiri kokoh. Foto: Hallonews/yopy

HALLONEWS.ID —Revitalisasi Jembatan Otto Iskandardinata (Otista) di Kota Bogor memang menghadirkan wajah baru. Jembatan tampak lebih lebar, lebih kokoh, dan menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurai kemacetan di pusat kota.

Bahkan, peresmian jembatan tersebut dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 19 Desember 2023.

Namun, di balik megahnya infrastruktur baru itu, ada persoalan yang dirasakan warga di bawah dan di sisi jembatan, khususnya di kawasan Lebak Pasar atau Babakan Pasar.

Supendy, Ketua Komunitas Bogoh Bumi Sunda menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi Gang Lebak Pasar, akses utama bagi sekitar tiga RW yang bermukim di kawasan tersebut, yang juga merupakan tetangga langsung kawasan Istana Bogor.

“Kami tidak menolak pembangunan. Kami memahami revitalisasi ini bagian dari upaya memperkuat infrastruktur kota. Tetapi pembangunan tidak boleh dilihat hanya dari badan jembatannya saja,” ujar Supendy Sabtu (14/2/2026).

Supendy juga menyoroti pola pembangunan jembatan bersejarah ini mulai dari pembebasan lahan hingga perubahan kontur.

Ia menuturkan, saat proses revitalisasi berlangsung, sejumlah bangunan warga di sisi gang dibebaskan dan dirubuhkan. Proses ganti rugi disebut telah berjalan sesuai ketentuan administratif.

Namun, setelah lahan dibuka dan kontur berubah, muncul persoalan baru. Elevasi jembatan yang kini lebih tinggi membuat turunan menuju Gang Lebak Pasar menjadi jauh lebih curam dibanding sebelumnya.

Di titik itulah warga mulai merasakan dampaknya.

Turunan licin dan rawan saat hujan. Air dari badan jembatan mengalir deras ke arah turunan gang. Permukaan menjadi licin. Lebar jalan terbatas dan tidak ada pemisahan jalur antara pejalan kaki dan kendaraan roda dua,” tegasnya.

Warga melaporkan pengendara motor kerap kesulitan mengontrol kendaraan ketika menurun. Beberapa disebut tergelincir, bahkan nyaris jatuh. Saat menanjak, terutama sambil membawa barang dagangan, motor sering tidak kuat naik.

Situasi ini menurut Supendy terjadi berulang, terutama pada musim hujan. Yang paling rentan, menurut komunitas, adalah lansia, anak-anak, serta ibu-ibu yang membawa belanjaan dari Pasar Bogor. Turunan curam tanpa pembatas memadai menjadi titik rawan terpeleset.

“Gang ini bukan sekadar jalan kecil. Ini akses hidup warga tiga RW. Kalau gang bermasalah, kehidupan harian mereka ikut bermasalah,” ujar Supendy.

Menurut Supendy, Lebak Pasar dikenal sebagai kawasan yang bergantung pada aktivitas Pasar Bogor. Akses yang licin dan tidak nyaman saat hujan membuat sebagian pembeli enggan melintas.

Distribusi barang menjadi lebih sulit. Pedagang mengeluhkan risiko barang jatuh saat turun dan naik gang yang curam.

Pembangunan yang bertujuan memperlancar arus kota, menurut komunitas, tidak seharusnya memperberat arus ekonomi warga kecil.

Komunitas juga menyoroti bahwa area yang semula direncanakan menjadi akses menuju destinasi arung jeram di bawah jembatan hingga kini belum tertata optimal, meski pembebasan lahannya telah dilakukan.

Sebagai bentuk kepedulian, Komunitas Bogoh Bumi Sunda menyampaikan beberapa rekomendasi :

1. Dilakukan audit keselamatan mikro pada turunan Gang Lebak Pasar.

2. Permukaan gang diperkeras dengan material anti-selip permanen serta dibuat pemisahan jalur pejalan kaki dan kendaraan roda dua.

3. Sistem drainase diperbaiki agar limpasan air tidak langsung mengalir deras menuruni gang.

“Bagi warga, persoalannya bukan pada estetika jembatan yang kini lebih megah, melainkan pada keselamatan sehari-hari saat mereka pulang ke rumah—terutama ketika hujan turun,” tegasnya.

“Pembangunan harus menyelesaikan masalah, bukan memindahkan risiko ke lingkungan kecil yang suaranya jarang terdengar,” katanya lagi.

Bagi Supendy, Di tengah geliat modernisasi kota, suara dari gang sempit di bawah jembatan itu menjadi pengingat bahwa, pembangunan sejati tidak hanya berdiri kokoh di atas beton, tetapi juga berpijak pada keselamatan warganya.

“Saya Supendy, Ketua Komunitas Bogoh Bumi Sunda. Ini nomor HP/WA 085882452981 saya. Semoga Pemkot Bogor mendengar,” ujarnya. (opy)