Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia

Ketegangan di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global. Menperin Agus Gumiwang mengingatkan dampaknya terhadap daya saing industri manufaktur Indonesia.

Jumat, 6 Maret 2026 - 13:00 WIB
Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia
Konflik Timur Tengah. Foto: Dok Yes Invest

HALLONEWS.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi memberikan dampak luas terhadap sektor industri global, termasuk Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah terus mencermati perkembangan konflik karena wilayah tersebut memiliki peran strategis sebagai pusat energi dunia sekaligus jalur logistik utama perdagangan internasional.

Menurutnya, setiap peningkatan eskalasi konflik dapat memicu volatilitas harga energi, mengganggu rantai pasok bahan baku industri, serta meningkatkan biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor.

Risiko Gangguan Energi
Salah satu kekhawatiran utama berasal dari potensi gangguan distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sehingga gangguan keamanan di kawasan itu dapat langsung memicu kenaikan harga energi internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, eskalasi konflik juga meningkatkan kekhawatiran terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi di kawasan tersebut.

Serangan militer serta ancaman keamanan maritim dilaporkan menyebabkan penurunan lalu lintas kapal tanker dan meningkatkan risiko bagi perusahaan pelayaran serta asuransi maritim.

Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah dan meningkatnya risiko geopolitik. Bagi industri manufaktur, kenaikan harga energi menjadi faktor yang sangat krusial karena energi merupakan komponen utama dalam biaya produksi.

Agus menjelaskan sejumlah sektor industri sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi, seperti industri petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, hingga berbagai subsektor industri pengolahan lainnya. Jika harga energi meningkat dalam periode yang panjang, biaya produksi industri berpotensi ikut naik.

Dampak pada Bahan Baku
Selain energi, konflik geopolitik juga dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku industri yang dipasok melalui perdagangan internasional. Gangguan pada jalur logistik global berpotensi meningkatkan harga komoditas sekaligus memperpanjang waktu pengiriman bahan baku.

Indonesia diperkirakan dapat merasakan dampaknya pada sejumlah sektor industri yang masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, hingga makanan dan minuman. Ketidakpastian geopolitik juga berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku bagi pelaku industri.

Di sisi lain, gangguan pada jalur perdagangan global dapat memengaruhi kinerja ekspor manufaktur Indonesia. Fluktuasi ekonomi dan pasar global akibat konflik biasanya berdampak pada perubahan permintaan dari negara tujuan ekspor.

Agus menekankan bahwa stabilitas ekonomi global dan permintaan internasional selama ini menjadi faktor penting bagi pertumbuhan ekspor industri manufaktur nasional. Oleh karena itu, perkembangan situasi geopolitik perlu diantisipasi secara serius.

Pemerintah, kata Agus, telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional.

Salah satunya dengan memperkuat struktur industri hulu serta meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri agar ketergantungan terhadap pasokan global dapat dikurangi.

Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi pasar ekspor guna memperluas tujuan perdagangan bagi produk manufaktur Indonesia. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekspor di tengah dinamika ekonomi global.

Upaya lain yang dilakukan adalah meningkatkan efisiensi energi di sektor industri serta mempercepat transformasi menuju industri hijau. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dunia.

Meski menghadapi berbagai tantangan global, Menperin optimistis industri manufaktur Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat. Hal ini didukung oleh struktur industri yang semakin terdiversifikasi serta kontribusi sektor manufaktur yang tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Kementerian Perindustrian juga terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait, untuk memastikan industri manufaktur nasional tetap mampu tumbuh dan menjaga daya saing di tengah dinamika ekonomi global. (Adi Prasetya Teguh/Yes Invest)