Masjid Agung Banten, Jejak Kejayaan Kesultanan yang Menyatukan Budaya Nusantara dan Dunia

HALLONEWS.ID -Di tengah kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, berdiri sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu lahir, berkembang, hingga runtuhnya Kesultanan Banten. Bangunan itu adalah Masjid Agung Banten, salah satu peninggalan sejarah paling berharga di Provinsi Banten yang hingga kini tetap menjadi pusat ibadah, wisata religi, dan destinasi sejarah yang ramai dikunjungi...
Minggu, 14 Juni 2026 - 9:30 WIB
Masjid Agung Banten, Jejak Kejayaan Kesultanan yang Menyatukan Budaya Nusantara dan Dunia
Dok Masjid Nusantara for Hallonews foto: Menara ikonik dan arsitektur khas Masjid Agung Banten menjadi simbol perpaduan budaya, sejarah, dan peradaban Islam yang terus hidup di Banten Lama hingga saat ini.

HALLONEWS.ID –Di tengah kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, berdiri sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu lahir, berkembang, hingga runtuhnya Kesultanan Banten. Bangunan itu adalah Masjid Agung Banten, salah satu peninggalan sejarah paling berharga di Provinsi Banten yang hingga kini tetap menjadi pusat ibadah, wisata religi, dan destinasi sejarah yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan penelusuran, Masjid Agung Banten dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati sekaligus sultan pertama Kesultanan Banten. Pembangunan masjid diperkirakan dimulai sekitar tahun 1560-an, seiring berkembangnya Banten sebagai pusat perdagangan internasional yang ramai disinggahi kapal-kapal dari Arab, Tiongkok, India, hingga Eropa.

Pada masa itu, Banten bukan hanya dikenal sebagai penghasil lada terbesar di Nusantara, tetapi juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di wilayah barat Pulau Jawa. Karena itu, keberadaan masjid menjadi bagian penting dalam tata kota Kesultanan Banten yang dirancang sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan keagamaan.

Masjid Agung Banten memiliki karakter yang berbeda dibandingkan masjid kuno lainnya di Indonesia. Bangunan ini menjadi simbol akulturasi budaya karena memadukan unsur arsitektur Nusantara, Tiongkok, dan Eropa dalam satu kompleks yang harmonis.

Dari bagian utama bangunan, pengaruh arsitektur Jawa terlihat dari bentuk ruang utama dan keberadaan empat tiang penyangga utama atau saka guru yang menopang struktur masjid. Sementara pengaruh Tiongkok tampak jelas pada bentuk atap bertingkat lima yang menyerupai pagoda. Bentuk atap tersebut menjadi ciri khas yang membuat Masjid Agung Banten mudah dikenali hingga saat ini.

Sejumlah sejarawan menyebut atap bertingkat lima tersebut memiliki filosofi yang erat dengan nilai-nilai Islam. Tingkatan atap dimaknai sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan ibadah. Selain itu, bentuknya juga mencerminkan hubungan erat antara budaya lokal dan pengaruh luar yang berkembang di Banten pada masa kejayaan perdagangan internasional.

Penelusuran HalloNews.id juga menemukan bahwa pembangunan masjid melibatkan sejumlah tokoh dengan latar belakang budaya yang berbeda. Salah satunya adalah Raden Sepat, seorang arsitek yang diyakini berasal dari tradisi Majapahit. Selain itu terdapat Tjek Ban Tjut, tokoh keturunan Tionghoa yang disebut berperan dalam desain atap masjid. Adapun unsur Eropa terlihat melalui karya Hendrik Lucaz Cardeel, seorang warga Belanda yang kemudian menetap dan memeluk agama Islam di Banten.

Jejak arsitektur Eropa terlihat pada bangunan menara yang berdiri di sisi timur masjid. Menara setinggi sekitar 24 meter itu menjadi salah satu ikon utama kawasan Banten Lama. Bentuknya menyerupai mercusuar dengan tangga spiral di bagian dalam yang memungkinkan pengunjung mencapai puncak bangunan.

Menurut sejumlah catatan sejarah, menara tersebut bukan hanya digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan, tetapi juga berfungsi sebagai titik pengawasan aktivitas pelayaran di Pelabuhan Banten yang saat itu menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara. Dari puncak menara, penjaga dapat memantau kapal-kapal yang keluar masuk kawasan pelabuhan.

Di sisi selatan masjid terdapat bangunan bernama Tiyamah. Pada masa Kesultanan Banten, bangunan ini digunakan sebagai tempat pertemuan para ulama, pejabat kerajaan, dan tokoh masyarakat untuk membahas berbagai persoalan pemerintahan maupun keagamaan. Saat ini, bangunan tersebut menjadi tempat penyimpanan sejumlah benda peninggalan sejarah Kesultanan Banten.

Selain bangunan utama, kawasan Masjid Agung Banten juga dikenal sebagai lokasi makam para sultan dan ulama besar yang berperan dalam perkembangan Islam di Banten. Makam Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, serta sejumlah tokoh penting lainnya berada di kompleks ini dan menjadi tujuan utama para peziarah.

Setiap tahun, terutama saat bulan Ramadan, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan berbagai momentum keagamaan lainnya, ribuan peziarah datang dari berbagai daerah untuk berziarah sekaligus mempelajari sejarah Kesultanan Banten. Aktivitas tersebut menjadikan kawasan Banten Lama sebagai salah satu pusat wisata religi terbesar di Indonesia.

Namun, di balik kemegahan dan nilai sejarahnya, kawasan Masjid Agung Banten juga menghadapi tantangan pelestarian. Tingginya jumlah pengunjung setiap tahun menuntut perhatian serius terhadap upaya konservasi bangunan bersejarah agar keaslian arsitektur dan nilai historisnya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Bagi masyarakat Banten, Masjid Agung Banten bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan ini merupakan simbol kejayaan masa lalu, bukti keterbukaan Kesultanan Banten terhadap berbagai budaya dunia, sekaligus pengingat bahwa Banten pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam terbesar di Nusantara.

Hingga kini, ratusan tahun setelah pertama kali dibangun, Masjid Agung Banten tetap berdiri kokoh. Menjadi saksi perjalanan sejarah, pusat spiritual masyarakat, serta warisan budaya yang terus menghubungkan masa lalu dengan masa depan. (esa)