Prabowo Kumpulkan Menteri dan Kepala BMKG Bahas Strategi Hadapi Cuaca Ekstrem Nasional

Presiden Prabowo memimpin rapat antisipasi cuaca ekstrem, karhutla, dan pengelolaan sumber daya air bersama BMKG serta kementerian terkait.

Selasa, 28 Juli 2026 - 16:32 WIB
Prabowo Kumpulkan Menteri dan Kepala BMKG Bahas Strategi Hadapi Cuaca Ekstrem Nasional
Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sejumlah menteri dan Kepala BMKG di Istana. Foto: Setpres for Hallonews

HALLONEWS.ID – Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sejumlah menteri dan pimpinan lembaga dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/7/2026).

Tujuannya untuk menyusun langkah antisipasi menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan potensi bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Rapat tersebut dihadiri Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii, Kepala BRIN Arif Satria, serta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan agenda utama rapat bersama Presiden membahas kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi cuaca ekstrem beserta dampak kebencanaan yang berpotensi terjadi.

“Tentang cuaca ekstrem dan kebencanaan” ujar Faisal kepada wartawan setibanya di Kompleks Istana Kepresidenan.

Sementara itu, Menko Infrastruktur dan Kewilayahan AHY menjelaskan pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap potensi dampak fenomena El Nino yang dapat memengaruhi ketersediaan air di berbagai daerah.

Menurut AHY, pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara efisien untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga pasokan air bagi sektor pertanian.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca apabila diperlukan. Langkah tersebut dilakukan berdasarkan koordinasi dengan BMKG guna menjaga debit air waduk dan danau tetap berada pada level yang aman.

“Kemudian, tentunya selain itu kita harus mengantisipasi jika memang sangat diperlukan, tentu kita berkoordinasi dengan BMKG, misalnya untuk melakukan operasi modifikasi cuaca untuk memastikan waduk-waduk kita debit airnya tetap dalam kondisi yang aman, termasuk danau,” kata AHY.

Tak hanya membahas kekeringan, rapat juga menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai menjadi salah satu risiko besar pada musim kemarau.

AHY menegaskan pengendalian titik api harus menjadi prioritas, termasuk menjaga lahan gambut tetap dalam kondisi basah sebagai langkah mitigasi untuk mencegah meluasnya kebakaran.

“Nah, yang kedua tentu juga ada ancaman karhutla, kebakaran hutan dan lahan. Ini juga sesuatu yang serius harus kita antisipasi, jangan sampai titik-titik api tidak bisa kita kontrol dengan baik. Tanah lahan gambut itu juga harus tetap dalam kondisi yang basah. Ini untuk memitigasi potensi kebakaran hutan,” ujarnya.

Melalui rapat terbatas ini, pemerintah berupaya memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar strategi mitigasi bencana, pengelolaan sumber daya air, serta pencegahan karhutla dapat berjalan lebih efektif menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan. (agn)