Di Dubai, Pakar Pasar Modal Jelaskan Indonesia Menuju Pusat Finansial Global
Ekonom dan pakar pasar modal Indonesia, Dr Lucky Bayu Purnomo hadir di Dubai dan membahas pengembangan pusat keuangan dan investasi internasional di Indonesia.

HALLONEWS.ID – Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Dubai, Denny Lesmana, menerima kunjungan Dr. Lucky Bayu Purnomo, Ekonom dan Pakar Pasar Modal Indonesia, di Kantor KJRI Dubai pada Kamis (24/7/2026).
Pertemuan ini membahas arah strategis pengembangan pusat keuangan dan investasi internasional Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Dr Lucky Bayu Purnomo memaparkan pandangan independen dan strategis mengenai gagasan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) atau Indonesia International Financial Center, dengan lokasi utama yang direncanakan di Bali dan Jakarta.
Inisiatif ini dirancang sebagai langkah strategis Indonesia untuk memperkuat posisinya di kancah keuangan global, dengan target jangka panjang mampu bersaing dengan pusat-pusat keuangan internasional yang telah mapan seperti Singapura dan Dubai.
Dr Lucky Bayu Purnomo menjelaskan bahwa pembentukan PFII akan menjadi salah satu pilar utama guna mendorong pertumbuhan ekonomi lintas nasional dan internasional, didukung oleh berbagai potensi dan sektor strategis serta peluang kerja sama yang dapat dikembangkan antara Indonesia dan Dubai.
“Kolaborasi lintas sektor tersebut, mulai dari keuangan, perdagangan, investasi, hingga pengembangan kawasan, akan memperkuat posisi PFII sebagai katalisator ekonomi Indonesia dengan jaringan finansial global,” katanya.
Adapun salah satu alasan penting di Dirikannya PFII guna mencapai :
* Kepatuhan Aturan Global: Skema insentif tetap dirancang selaras dengan ketentuan Global Minimum Tax (GMT) bagi perusahaan multinasional, sehingga tidak bertentangan dengan komitmen internasional Indonesia.
* Tujuan Strategis: Memperkuat posisi kompetitif Indonesia dalam menarik modal global sekaligus mentransformasi sektor jasa keuangan nasional menuju standar dan skala internasional.
Sebagai Ekonom dan Pakar Pasar Modal, Dr Lucky Bayu Purnomo turut menyampaikan pandangan mengenai skema kerja sama pasar modal guna mendukung program kerja sama investasi, yang secara terpadu diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan program PFII. Menurutnya, sinergi antara otoritas pasar modal, pelaku industri keuangan, dan mitra investasi internasional menjadi elemen kunci agar PFII dapat berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Menurut Dr Lucky, pembentukan PFII memiliki relevansi strategis mengingat posisi geoekonomi Indonesia, potensi pasar domestik yang besar, serta momentum reformasi regulasi pasar modal yang tengah berlangsung di bawah kerangka OJK dan Bappebti.
Kehadiran pusat finansial internasional di Bali dan Jakarta dipandang dapat menjadi katalisator masuknya investasi asing langsung, memperluas basis investor institusional, serta memperkuat konektivitas Indonesia dengan pusat-pusat modal global.
Menanggapi pandangan tersebut, Konsul Jenderal RI Dubai, Denny Lesmana, menyambut baik dan menjelaskan bahwa kunjungan ini akan membuka ruang dialog dan diplomasi secara strategis antara Indonesia dan Dubai, mengingat Dubai telah secara aktif mengembangkan Dubai International Financial Centre (DIFC).
DIFC didirikan pada tahun 2004 berdasarkan Federal Decree No. 35 Tahun 2004, sebagai kawasan finansial bebas (financial free zone) dengan yurisdiksi hukum dan regulasi independen yang mengacu pada sistem common law, terpisah dari sistem hukum federal maupun lokal Uni Emirat Arab. DIFC memiliki regulator independen, Dubai Financial Services Authority (DFSA), serta sistem peradilan tersendiri, DIFC Courts, dan berperan sebagai pusat finansial utama bagi kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan (MEASA).
Dari sisi nilai ekonomis, capaian DIFC menunjukkan skala yang signifikan. Berdasarkan data resmi pemerintah Dubai dan DIFC, pada tahun 2025 jumlah perusahaan aktif di DIFC tumbuh 28 persen menjadi 8.844 perusahaan, sementara total pendapatan gabungan meningkat 20 persen menjadi AED 2,13 miliar, naik dari AED 1,78 miliar pada tahun 2024. Laba bersih pada periode yang sama tumbuh 28 persen menjadi AED 1,48 miliar, dari sebelumnya AED 1,16 miliar. Dari sisi pengelolaan kekayaan, hingga akhir 2024 tercatat 120 keluarga dan individu berkekayaan tinggi (high-net-worth individuals) dalam ekosistem DIFC mengelola aset senilai lebih dari USD 1,2 triliun.
Angka-angka tersebut menegaskan posisi DIFC sebagai salah satu pusat finansial dengan pertumbuhan tercepat dan bernilai ekonomi tinggi di dunia. Menurut Denny Lesmana, skala dan capaian ekonomis DIFC dapat menjadi salah satu tolok ukur dan referensi strategis bagi Indonesia dalam merancang kerangka regulasi, kelembagaan, dan target pertumbuhan PFII, sekaligus membuka peluang kerja sama dan pertukaran wawasan lebih lanjut antara kedua negara di sektor keuangan dan investasi.
Kiprah Dr Lucky Bayu Purnomo menjadi sorotan publik dan media massa pasca krisis keuangan global 2008, ketika keahliannya dalam manajemen portofolio mencatatkan hasil fenomenal dengan pertumbuhan portofolio mencapai lebih dari 4.800 persen di tengah tekanan ekonomi dunia.
Pencapaian tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah buku kisah nyata yang diterbitkan oleh penerbit nasional dan didistribusikan secara nasional hingga internasional.
Pada tahun 2025, Indonesia mencatatkan tonggak sejarah baru dalam diplomasi ekonomi internasional melalui kehadiran Dr. Lucky Bayu Purnomo di ajang bergengsi Shanghai Cooperation Organization (SCO) International Investment and Trade Expo.
Sebagai Pakar Pasar Modal dan Ekonom, ia tampil sebagai delegasi sekaligus pembicara pertama dari Indonesia dalam forum yang mempertemukan para pemimpin ekonomi terbesar di kawasan Eurasia tersebut, menjadikannya salah satu figur penting dalam industri pasar modal dan keuangan Indonesia.
Dr. Lucky Bayu Purnomo merupakan Ekonom dan Pakar Pasar Modal Indonesia dengan rekam jejak lebih dari 20 tahun di sektor keuangan dan pasar modal nasional maupun internasional, mencakup private equity, penasihat korporasi dan investasi, transaksi pasar modal (IPO, rights issue, private placement), hingga structuring investasi lintas sektor.
Namanya dikenal luas pasca krisis keuangan global 2008 berkat rekam jejak pengelolaan portofolio yang tercatat tumbuh lebih dari 4.800 persen, kisah yang kemudian diterbitkan menjadi buku dan didistribusikan secara nasional maupun internasional. Pada 2025, ia turut mengukir sejarah sebagai delegasi dan pembicara pertama dari Indonesia dalam SCO International Investment and Trade Expo, memperkuat posisinya sebagai salah satu figur penting dalam industri pasar modal dan keuangan Indonesia. (gin)
