Menteri PPPA Tegaskan Bermain adalah Hak Anak, Ajak Semua Pihak Hadirkan Ruang Kreatif

Menteri PPPA menegaskan bermain merupakan hak anak serta mengajak semua pihak menghadirkan ruang bermain aman, kreatif, edukatif, dan inklusif.

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:46 WIB
Menteri PPPA Tegaskan Bermain adalah Hak Anak, Ajak Semua Pihak Hadirkan Ruang Kreatif
Menteri PPPA Arifah Fauzi saat menghadiri kegiatan Lego Playground: Main dan Jadi Hebat 2026 yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. (Foto: Dok Kemen PPPA)

HALLONEWS.ID – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa bermain merupakan hak dasar setiap anak yang dijamin negara dan memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang mereka. Karena itu, seluruh pihak didorong untuk menghadirkan ruang bermain yang aman, kreatif, edukatif, dan ramah anak.

Pernyataan tersebut disampaikan Arifah saat menghadiri kegiatan LEGO Playground: Main dan Jadi Hebat 2026 yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Menurut Arifah, bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, tetapi menjadi sarana bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, kemampuan berpikir kritis, hingga membangun rasa percaya diri.

“Kegiatan ini merupakan contoh nyata kolaborasi positif dalam mendukung pemenuhan hak anak, khususnya hak atas pemanfaatan waktu luang yang positif. Anak-anak tidak hanya diajak mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga diberikan ruang untuk mengekspresikan ide serta membangun kepercayaan diri,” ujarnya dalam keterangan pers yang dikutip, Minggu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, hak anak untuk bermain telah dijamin dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Aturan tersebut menegaskan bahwa setiap anak berhak beristirahat, memanfaatkan waktu luang, bermain, berekreasi, bergaul dengan teman sebaya, dan berkreasi sesuai minat serta bakatnya.

Arifah menilai kehadiran ruang partisipatif seperti LEGO Playground menjadi contoh bagaimana dunia usaha dapat berkontribusi dalam mendukung pemenuhan hak anak.

“Investasi terbaik bagi masa depan bangsa dimulai dengan memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk bermain, belajar, dan berkembang sesuai potensi terbaiknya,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk menghadirkan ruang bermain berkualitas bagi anak-anak Indonesia.

Sementara itu, General Manager Emerging Asia LEGO Group, Cedric Roose, mengatakan Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar dan tumbuh melalui aktivitas bermain.

Menurutnya, bermain bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi media bagi anak untuk mengeksplorasi dunia, memecahkan masalah, membangun rasa percaya diri, dan memperkuat interaksi sosial.

“Saat ini kesempatan anak untuk bermain semakin terbatas. Karena itu kami kembali menghadirkan LEGO Playground di Indonesia sebagai komitmen menciptakan lebih banyak ruang bermain yang bermakna,” ujar Cedric.

Ia menjelaskan, tahun ini LEGO Playground digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan mengusung tema #MainDanJadiHebat. Melalui kegiatan tersebut, LEGO ingin mendorong anak-anak mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, serta ketangguhan sejak usia dini.

Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menyatakan kegiatan tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA).

Menurut Woro, penciptaan lingkungan yang aman bagi anak tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi dunia usaha, media, komunitas, keluarga, dan masyarakat.

“Pemenuhan hak dan perlindungan anak harus diwujudkan di empat ruang utama, yakni keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital. Keempatnya harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk belajar, bermain, berinteraksi, serta berkembang tanpa rasa takut terhadap kekerasan, perundungan, maupun eksploitasi,” tegasnya. (agn)