Sejarah Puncak Bogor: Berawal dari Wabah Malaria hingga Jadi Destinasi Wisata Favorit
Sejarah kawasan Puncak Bogor bermula dari wabah malaria di Batavia pada abad ke-18. Kini, Puncak menjadi destinasi wisata favorit dengan udara sejuk dan panorama alam

HALLONEWS.ID – Kawasan Puncak di Bogor hingga kini tetap menjadi salah satu destinasi wisata primadona bagi warga ibu kota. Udara sejuk dan hamparan alam pegunungan menjadikannya pilihan utama untuk melepas penat.
Namun, di balik pesonanya, Puncak memiliki sejarah panjang yang berawal dari krisis kesehatan di masa lalu.
Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan bahwa cikal bakal berkembangnya kawasan Puncak bermula dari wabah penyakit di Batavia (sekarang Jakarta).
Pada tahun 1733, Batavia dilanda wabah demam mematikan yang kini dikenal sebagai Malaria. Wabah ini menyebabkan banyak kematian mendadak dan membuat kondisi kota menjadi tidak sehat.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Gubernur Jenderal VOC, Baron Van Imhoff, mengambil langkah dengan memindahkan para elit ke wilayah selatan yang lebih sehat.
Sekitar tahun 1740–1745, ia mulai membangun rumah peristirahatan (resort) di wilayah Bogor. Salah satu peninggalannya adalah Istana Bogor, yang awalnya difungsikan sebagai tempat pemulihan kesehatan.
Konsep ini mirip dengan terapi alam yang mengandalkan udara segar, lingkungan hijau, dan suasana tenang untuk memulihkan kondisi tubuh.
Wilayah Puncak kemudian diproyeksikan sebagai lokasi ideal untuk pemulihan kesehatan karena kondisi alamnya yang lebih bersih dibanding Batavia yang saat itu kotor dan penuh penyakit.
Puncak menjadi simbol “pelarian” dari kota yang salah kelola dan tidak sehat, sekaligus menjadi embrio kawasan wisata berbasis alam.
Pada tahun 1815, atas perintah Raja Belanda, penelitian botani mulai dikembangkan di Bogor. Aktivitas ini berpusat di Kebun Raya Bogor, yang menjadi tempat berkumpulnya ilmuwan Hindia Belanda.
Dari riset tersebut, pada sekitar tahun 1840 ditemukan tanaman kina yang sangat penting untuk pengobatan malaria. Seiring waktu, aktivitas ilmiah meluas hingga ke Kebun Raya Cibodas di kawasan Puncak.
Perkembangan Puncak tidak lepas dari peran Herman Willem Daendels yang membangun Jalan Raya Pos pada awal abad ke-19.
Jalan ini membuka akses menuju Puncak, termasuk jalur Puncak Pass di ketinggian sekitar 1.408 meter di atas permukaan laut.
Tanpa infrastruktur ini, kawasan Puncak sulit dijangkau dan tidak akan berkembang seperti sekarang.
Memasuki awal abad ke-20, sekitar tahun 1910, pembukaan perkebunan teh secara besar-besaran mengubah lanskap Puncak menjadi hamparan hijau yang indah.
Pada masa Hindia Belanda, Puncak menjadi destinasi liburan warga Eropa. Aktivitas seperti berkuda di Megamendung populer sejak 1921, berkendara mobil dan motor ke Puncak menjadi simbol status sosial.
Kenapa warga Eropa betah?. Hal ini karena udara sejuk di lereng Gunung Gede Pangrango menjadikan kawasan ini tempat ideal untuk rekreasi.
Atas berbagai sejarah ini, maka kawasan Puncak tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga lahir dari kebutuhan historis untuk bertahan dari wabah penyakit.
Dimulai sebagai tempat pemulihan kesehatan bagi elit kolonial, Puncak berkembang melalui riset ilmiah, pembangunan infrastruktur, hingga akhirnya menjadi ikon wisata alam yang bertahan hingga saat ini.
Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa Puncak adalah hasil perpaduan antara krisis, inovasi, dan pemanfaatan alam yang berkelanjutan. (opy)
