Update Gempa Sulteng: 6.458 Warga Terdampak, Ribuan Rumah Rusak dan 1 Orang Tewas
Update gempa M 6,7 Sulawesi Tengah menunjukkan 6.458 jiwa terdampak, satu orang meninggal dunia, dan ribuan rumah mengalami kerusakan di sejumlah wilayah.

HALLONEWS.ID – Gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) meninggalkan dampak luas.
Hingga kini, 6.458 jiwa dilaporkan terdampak, sementara ribuan rumah dan berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan.
“Data sementara hingga hari ini menunjukkan bencana tersebut memengaruhi wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, dan Parigi Moutong,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Kamis (18/6/2026).
Dari total warga terdampak, sebanyak 2.012 kepala keluarga atau 6.458 jiwa telah terdata, dengan mayoritas berada di Kabupaten Sigi. Korban jiwa hingga kini tercatat satu orang meninggal dunia di Kabupaten Sigi.
Selain itu, terdapat 15 korban luka berat dan 64 korban luka ringan yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak. Pemerintah masih terus melakukan verifikasi dan pembaruan data seiring berlangsungnya proses pendataan di lapangan.
“Kerusakan paling banyak terjadi pada sektor permukiman. Sedikitnya 1.456 rumah mengalami rusak ringan, 112 rumah rusak sedang, dan 47 rumah rusak berat,” ungkapnya.
Sebagian besar kerusakan tersebut berada di Kabupaten Sigi, sementara kerusakan lainnya tercatat di Kota Palu, Kabupaten Poso, dan Parigi Moutong. Tak hanya rumah warga, gempa juga merusak berbagai fasilitas publik.
Sedikitnya 35 tempat ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 11 gedung perkantoran, dua jembatan, lima pelaku usaha mikro, empat hotel, satu vila, satu gedung pertemuan, dan satu rumah adat ikut terdampak.
Di Kabupaten Poso, gempa menyebabkan sejumlah titik pada ruas jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso mengalami amblas. Kondisi ini menjadi salah satu kendala dalam proses distribusi bantuan dan asesmen lapangan.
Proses penanganan darurat juga menghadapi tantangan di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, yang hingga kini masih sulit dijangkau akibat terganggunya jaringan komunikasi serta keterbatasan personel dan sarana transportasi.
Sementara di Kota Palu, Jembatan Palu III masih ditutup sementara setelah ditemukan keretakan pada strukturnya. Pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan kajian teknis untuk memastikan keamanan sebelum jembatan dapat kembali digunakan.
Di sektor kesehatan, tenda darurat telah didirikan di area rumah sakit untuk menunjang pelayanan medis. Pasien yang sempat dievakuasi saat gempa juga mulai dipindahkan kembali ke ruang perawatan secara bertahap.
Untuk mempercepat penanganan bencana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni 2026. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sigi juga tengah menyiapkan penetapan status darurat selama 14 hari.
Hingga kini, pemerintah bersama BPBD, TNI, Polri, dan berbagai instansi terus melakukan asesmen, mendistribusikan bantuan logistik, membuka posko darurat, serta memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Kebutuhan mendesak yang masih diperlukan meliputi logistik, terpal penutup bangunan rusak, dan tambahan tenda darurat.
Berdasarkan pemantauan BMKG, hingga Rabu siang telah terjadi sedikitnya 13 kali gempa susulan dengan magnitudo antara 4,0 hingga 4,2. Masyarakat diimbau tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari pemerintah. (dul)
