Mengenal Masjid Al-Barkah, Denyut Tua Kota Bekasi yang Kembali Hidup di Bulan Ramadan

Masjid Al-Barkah Bekasi, masjid tertua sejak 1890 kembali hidup di bulan Ramadan dengan tadarus, buka puasa, kajian, hingga i’tikaf. Landmark religius Kota Patriot sarat sejarah.

Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:01 WIB
Mengenal Masjid Al-Barkah, Denyut Tua Kota Bekasi yang Kembali Hidup di Bulan Ramadan
Masjid Al-Barkah Bekasi di Jalan Veteran, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Foto/Hallonews

HALLONEWS.ID – Senja Ramadan turun perlahan di Alun-Alun Kota Bekasi. Dari pelataran Masjid Agung Al-Barkah suara azan magrib menggema, mengundang jamaah datang membawa sajadah, anak-anak kecil berlarian di halaman, dan pedagang takjil meramaikan sudut kota.

Masjid yang berdiri sejak 1890 itu, waktu terasa berjalan lebih pelan. Sejarah, spiritualitas, dan kehidupan kota bertemu di satu titik. Masjid Agung Al-Barkah bukan sekadar rumah ibadah. Ia penanda perjalanan Bekasi, saksi perlawanan, sekaligus ruang pulang warga setiap Ramadan.

Masjid ini bermula dari sebuah surau sederhana yang didirikan H. Abdul Hamid di atas tanah wakaf Bahroem seluas 3.370 meter persegi pada akhir abad ke-19. Dari surau itulah denyut Islam di Bekasi tumbuh, menyatu dengan denyut kota yang terus berkembang.

Renovasi demi renovasi dilakukan hingga bangunan dua lantai berdiri megah di Jalan Veteran, Margajaya, Bekasi Selatan. Kini, Al-Barkah dikenal sebagai salah satu landmark Kota Bekasi ikon yang berdiri di jantung kota, berdampingan dengan alun-alun yang menjadi ruang publik warga.

Memasuki ruang utama, jamaah merasakan sensasi yang jarang ditemui di masjid lain. Lantai dua yang menutupi setengah ruang utama menciptakan kesan sedikit “menekan”sebuah simbol kerendahan manusia di hadapan Sang Pencipta.

Namun, beberapa langkah ke arah mihrab, ruang tiba-tiba terasa lapang. Kubah besar berwarna biru terbuka di atas kepala, dihiasi motif geometris hijau dan emas dengan pola bintang khas seni Islam.

Tiang-tiang bertekstur kayu menghadirkan kehangatan, sementara delapan pintu kayu jati dari Jepara menyambut jamaah dengan ukiran kaligrafi yang anggun.

Empat menara berdiri di sudut masjid dua besar di depan dan dua lebih kecil di belakang menegaskan karakter arsitektur Timur Tengah yang masih dipertahankan meski telah beberapa kali direnovasi.

Masjid Al-Barkah juga menyimpan kisah bangsa. Di masa penjajahan, masjid ini menjadi tempat berkumpul dan berlindung. Bahkan, Presiden Soekarno pernah singgah untuk beribadah di sini sebelum peristiwa Rengasdengklok, saat ia dibawa ke Karawang menjelang Proklamasi.

masjid albarkah bekasi1
Masjid Al-Barkah Bekasi di Jalan Veteran, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Foto/Hallonews

Di kompleks masjid, terdapat makam demang Bekasi dan makam Mad Nuin Hasibuan, tokoh yang namanya kini diabadikan sebagai Alun-Alun Bekasi. Jejak sejarah itu menjadikan Al-Barkah bukan sekadar bangunan religius, tetapi ruang memori kolektif kota.

Di bulan Ramadan, Al-Barkah berubah menjadi pusat denyut spiritual kota. Tarawih, tadarus, kajian, hingga i’tikaf mengisi hari-hari jamaah. Bahkan lokasi ini menjadi tempat pavorit warga di Timur DKI Jakarta itu untuk ngabuburit menunggu azan Magrib.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Barkah, KH Nachrawi Subandi mengatakan program Ramadan disiapkan jauh sebelum bulan suci tiba.

“Program satu malam satu juz kembali kita laksanakan. InsyaAllah selama satu bulan penuh kita targetkan khatam 30 juz,” kata KH Nachrawi Subandi.

Masjid juga menyediakan buka puasa bagi musafir dan jamaah yang singgah. Takjil dibagikan setiap sore, sementara kajian rutin digelar setiap Senin dan Kamis. Kajian khusus muslimah turut menghadirkan penceramah dari berbagai kalangan.

Memasuki sepuluh malam terakhir, rangkaian i’tikaf dan kajian intensif digelar untuk membimbing jamaah meraih Lailatul Qadar. Di penghujung Ramadan, gema takbir akan kembali mengalun dari menara masjid, disusul pelaksanaan Salat Idulfitri selalu dipadati ribuan jamaah.

Meski bukan berstatus cagar budaya karena telah berulang kali direnovasi, nilai historis Al-Barkah tak pernah pudar. Di tengah kota yang terus tumbuh dengan gedung-gedung modern, masjid ini tetap menjadi ruang hening tempat warga menepi dari hiruk-pikuk dan kembali pada makna.

Di malam Ramadan, ketika lampu-lampu masjid menyala dan suara tadarus mengalun hingga larut, Al-Barkah bukan hanya bangunan tua yang bertahan. Ia adalah jantung spiritual Kota Bekasi tempat sejarah, iman, dan harapan terus berdenyut. (dul)