Perang Iran-Israel Picu Harga Minyak Global Melonjak, Industri Bekasi Mulai Cemas

Perang Iran-Israel mulai dibayangi pelaku usaha di Bekasi. Pengusaha khawatir kenaikan harga energi dan gangguan logistik memukul sektor manufaktur.

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:00 WIB
Perang Iran-Israel Picu Harga Minyak Global Melonjak, Industri Bekasi Mulai Cemas
Kawasan Industri MM2100 di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Foto/Hallonews

HALLONEWS.ID – Perang Iran dan Israel mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha di Bekasi. Para pengusaha menilai konflik di Timur Tengah berpotensi memicu efek domino terhadap perekonomian global yang berdampak hingga ke sektor industri.

Kabupaten Bekasi dikenal sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar di Indonesia. Wilayah ini memiliki sedikitnya 11 kawasan industri dengan lebih dari 8.000 perusahaan yang beroperasi, menjadikannya tulang punggung aktivitas industri nasional.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bekasi M. Yusuf Wibisono mengatakan kekhawatiran utama pelaku usaha saat ini berkaitan dengan potensi guncangan ekonomi akibat konflik geopolitik tersebut.

“Kekhawatiran pengusaha di Kabupaten Bekasi terkait perang Iran-Israel utamanya adalah dampak ekonomi yang mungkin terjadi,” kata Yusuf, Kamis (5/3/2026).

Menurut dia, sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Banyak perusahaan di kawasan industri Bekasi masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dan komponen dari luar negeri.

Jika konflik berkepanjangan, gangguan jalur perdagangan internasional berpotensi memicu kenaikan biaya produksi. Selain itu, sektor energi, pertambangan, hingga pangan juga dinilai dapat terkena imbasnya.

Yusuf menjelaskan, beberapa potensi dampak yang dikhawatirkan pelaku usaha antara lain lonjakan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Selain itu, gejolak pasar keuangan global juga dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kenaikan harga minyak dunia, guncangan pasar keuangan global yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, gangguan rantai pasok yang berdampak pada ketersediaan bahan baku dan komponen, hingga potensi kenaikan inflasi yang menekan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Sejauh ini, Apindo Kabupaten Bekasi masih terus memantau perkembangan situasi global tersebut. Meski belum ada laporan resmi terkait lonjakan besar biaya logistik, sejumlah pelaku usaha mulai merasakan kenaikan biaya operasional, terutama di sektor transportasi.

“Saat ini belum ada laporan resmi mengenai kenaikan biaya logistik akibat perang Iran–Israel. Namun beberapa pengusaha mulai melaporkan kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi,” kata Yusuf.

Sebagai langkah antisipasi, Apindo Kabupaten Bekasi juga meminta para pelaku usaha memperkuat strategi mitigasi untuk menghadapi potensi risiko jika konflik berlangsung lebih lama.

Sejumlah langkah yang disarankan antara lain melakukan diversifikasi sumber energi dan bahan baku, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat manajemen rantai pasok dan logistik.
Selain itu, pelaku usaha juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko geopolitik yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global.

Meski berbagai langkah antisipasi telah disiapkan, ketidakpastian situasi global membuat dunia usaha di Kabupaten Bekasi diminta tetap waspada.

“Situasi masih terus berkembang. Pengusaha di Kabupaten Bekasi harus tetap siap menghadapi kemungkinan yang tidak terduga,” ujar Yusuf. (dul)