Jelang Lebaran, Dinas Kesehatan Bekasi Ungkap Kasus Suspek Campak Tembus 1.414

Jelang Lebaran 2026, Kota Bekasi mencatat 1.414 kasus suspek campak. Pemerintah percepat imunisasi anak untuk memutus rantai penularan.

Sabtu, 14 Maret 2026 - 16:31 WIB
Jelang Lebaran, Dinas Kesehatan Bekasi Ungkap Kasus Suspek Campak Tembus 1.414
Ilustrasi Campak. Foto/Freepik

HALLONEWS.ID – Kasus suspek campak di Kota Bekasi meningkat tajam pada awal 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat 1.414 kasus hingga pekan ke-9 tahun ini, memicu kewaspadaan pemerintah menjelang libur Lebaran, saat mobilitas warga diprediksi naik.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Vevie Herawati, mengatakan jumlah tersebut masih dalam tahap verifikasi dan pemeriksaan laboratorium.

“Dinkes terus melakukan verifikasi dan uji laboratorium untuk memastikan jumlah kasus konfirmasi positif,” kata Vevie, Sabtu (14/3/2026).

Lonjakan kasus mendorong pemerintah daerah meningkatkan langkah mitigasi. Petugas kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber penularan dan memutus rantai penyebaran di lingkungan sekitar pasien.

Selain itu, Dinkes mempercepat program imunisasi Measles Rubella (MR) melalui puskesmas dan posyandu, khususnya menyisir anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Vitamin A dosis tinggi juga dibagikan kepada balita untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah komplikasi serius jika terinfeksi.

Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular, baik melalui udara maupun percikan ludah. Imunisasi menjadi perlindungan paling efektif.

Vevie mengingatkan orang tua untuk memastikan anak mendapatkan vaksin MR sesuai jadwal: 9 bulan, 18 bulan, dan saat masuk sekolah dasar.

Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala awal campak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kemerahan, yang biasanya muncul pertama di leher atau belakang telinga.

Anak yang menunjukkan gejala sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan dan dikarantina sementara untuk mencegah penularan. Lonjakan kasus ini tidak lepas dari dampak pandemi COVID-19, ketika cakupan imunisasi sempat menurun.

Penasihat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI ) Bekasi Triza Arif Santosa mengatakan, kondisi tersebut menciptakan populasi anak lebih rentan terhadap penyakit menular. “Karena COVID-19, kondisi ini menciptakan populasi yang rentan,” katanya.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat 10.453 kasus suspek campak hingga awal Maret 2026. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan percepatan imunisasi penting untuk mencapai herd immunity sebelum Lebaran.

“Campak sangat menular. Satu pasien bisa menularkan virus kepada 12-18 orang lain. Percepatan imunisasi menjadi kunci untuk menekan lonjakan kasus,” kata Budi.

Untuk itu, Budi meminta masyarakat untuk tetap waspada, memastikan anak mendapat imunisasi lengkap, dan membatasi kontak dengan balita jika sedang sakit, terutama menjelang periode mudik Lebaran Idulfitri 2026. (dul)