Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen, Dampak Konflik Timur Tengah Mulai Guncang Ekonomi Global

Harga minyak dunia turun lebih dari 10 persen setelah pernyataan Donald Trump terkait konflik Timur Tengah. Pasar energi, saham, dan kebijakan ekonomi global ikut terdampak.

Selasa, 24 Maret 2026 - 11:46 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen, Dampak Konflik Timur Tengah Mulai Guncang Ekonomi Global
Pasar saham di Jerman menguat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memicu pergerakan positif di pasar keuangan global, pada Senin (23/3/2026) waktu setempat. Foto: Sky News for Hallonew

HALLONEWS.ID – Pasar energi global mengalami pergeseran besar setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait perkembangan konflik di Timur Tengah. Reaksi pasar terlihat langsung dari penurunan tajam harga minyak dunia.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun lebih dari 10 persen hingga berada di kisaran 100 dolar AS per barel, pada Selasa (24/3/2026) setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam selama beberapa pekan terakhir.

Penurunan ini menjadi sinyal awal stabilisasi pasar energi setelah beberapa waktu harga energi global mengalami kenaikan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Selain minyak, harga gas alam di Inggris juga turun sekitar 6 persen. Meski demikian, analis menilai kondisi pasar energi global masih belum sepenuhnya stabil dan risiko kenaikan biaya hidup akibat energi masih tetap ada.

Pasar Saham dan Suku Bunga Ikut Bergerak

Di pasar keuangan yang lebih luas, indeks saham utama Inggris, FTSE 100, sempat turun sekitar 2 persen pada awal perdagangan sebelum akhirnya berbalik menguat dan ditutup di zona positif.

Sementara itu, biaya pinjaman pemerintah Inggris dan negara Barat lainnya yang sempat naik pada awal perdagangan juga mulai turun seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral.

Data pasar menunjukkan suku bunga Bank Sentral Inggris yang saat ini berada di sekitar 3,75 persen diperkirakan akan berakhir di bawah 4,5 persen pada akhir tahun.

Slovenia Mulai Batasi Pembelian BBM

Dampak konflik Timur Tengah juga mulai dirasakan di Eropa. Slovenia menjadi negara Uni Eropa pertama yang menerapkan pembatasan pembelian bahan bakar sementara akibat gangguan pasokan energi.

Dalam kebijakan tersebut, pengendara pribadi dibatasi membeli maksimal 50 liter bahan bakar per hari, sementara pelaku usaha dan petani diperbolehkan membeli hingga 200 liter per hari.

Perdana Menteri Slovenia, Robert Golob, mengatakan kebijakan tersebut akan berlaku hingga kondisi pasokan energi kembali stabil.

Inggris Siapkan Aturan Antikenaikan Harga

Di Inggris, Menteri Keuangan Rachel Reeves berencana mengumumkan langkah untuk menindak perusahaan yang memanfaatkan krisis Timur Tengah dengan menaikkan harga secara tidak wajar.

Pemerintah Inggris menyiapkan kerangka kebijakan antipencatutan harga untuk membantu Competition and Markets Authority dalam menindak praktik penetapan harga yang tidak wajar.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, juga menyatakan pemerintah akan mempertimbangkan pemberian kewenangan tambahan kepada regulator untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga yang tidak wajar serta mempercepat pengembangan energi alternatif, termasuk tenaga nuklir.

Para analis menilai konflik Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga mengguncang pasar energi, inflasi global, hingga kebijakan ekonomi di berbagai negara Barat. (ren)