Kartini Masa Kini di Dunia Agraria: Shinta Purwitasari, Memimpin dengan Ketegasan dan Empati

Profil inspiratif Shinta Purwitasari, pemimpin perempuan di sektor agraria yang mengedepankan ketegasan dan empati.

Selasa, 7 April 2026 - 23:30 WIB
Kartini Masa Kini di Dunia Agraria: Shinta Purwitasari, Memimpin dengan Ketegasan dan Empati
Shinta Purwitasari, Kepala Kantor Pertanahan Jakarta Barat, sosok Kartini masa kini di sektor agraria. Foto: Humas BPN Jakbar for Hallonews

HALLONEWS.ID – Di balik hiruk-pikuk persoalan agraria yang kompleks, mulai dari sengketa tanah hingga konflik kepemilikan, muncul sosok perempuan yang memimpin dengan ketegasan sekaligus empati. Dialah Shinta Purwitasari, Kepala Kantor Pertanahan Kota Jakarta Barat.

Bagi Shinta, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu memahami dan menyelesaikan persoalan dengan hati.

“Perempuan zaman sekarang harus maju, tangguh, dan bertanggung jawab. Kita tidak kalah dengan laki-laki,” ujarnya, tegas namun tetap hangat, saat ditemui di Jakarta Barat, Selasa (7/4/2026).

Dari Yogyakarta Menuju Panggung Kepemimpinan Nasional

Perempuan kelahiran Yogyakarta ini tumbuh dengan nilai ketekunan dan kerja keras. Ia tidak hanya mengandalkan kecerdasan, tetapi juga konsistensi dalam mengembangkan diri.

Langkahnya di dunia profesional dimulai sebagai seorang pengacara. Selama empat tahun berpraktik sebagai lawyer, ia ditempa untuk berpikir kritis, memahami hukum secara mendalam, dan menghadapi realitas konflik secara langsung, pengalaman yang kelak menjadi bekal penting di dunia pertanahan.

Namun, Shinta tidak berhenti di sana. Ia memilih jalur pengabdian yang lebih luas melalui Kementerian ATR/BPN, sebuah keputusan yang mengubah arah hidupnya.

Meniti dari Bawah, Menembus Batas

Karier Shinta bukan kisah instan. Ia memulai dari posisi staf, kemudian perlahan naik melalui berbagai jenjang: kepala seksi, kepala subdirektorat, hingga kepala bagian.

Dedikasi dan konsistensinya berbuah kepercayaan. Ia dipercaya memimpin Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan, sebelum akhirnya kembali mendapat amanah, kali ini sebagai Kepala Kantor Pertanahan Jakarta Barat.

Dua kali memimpin kantor pertanahan bukan sekadar prestasi, melainkan bukti kapasitas.

Pendidikan sebagai Fondasi

Bagi Shinta, pendidikan bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menyelesaikan dua gelar sarjana sekaligus: Teknik Sipil di Universitas Islam Indonesia dan Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia dan meraih gelar doktor dari Universitas Trisakti.

“Pendidikan adalah kunci,” katanya singkat, namun sarat makna.

Memimpin dengan Hati di Tengah Kompleksitas

Dunia agraria dikenal keras dan penuh tekanan. Namun, Shinta justru menemukan kekuatannya di sana.

Ia tidak hanya mengandalkan pendekatan struktural, tetapi juga pendekatan personal, mendengarkan, memahami, dan mencari solusi yang adil.

“Saya bisa melakukan pendekatan dari hati ke hati. Itu justru menjadi kekuatan sebagai perempuan,” ungkapnya.

Pendekatan ini membuat kepemimpinannya terasa berbeda: tegas dalam keputusan, tetapi tetap manusiawi dalam proses.

Kartini Modern: Antara Karier dan Keluarga

Di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, Shinta tetap memegang teguh perannya dalam keluarga. Baginya, keseimbangan bukan kelemahan, melainkan kekuatan.

“Kita harus menunjukkan bahwa perempuan mampu. Tapi tetap ingat peran kita sebagai ibu dan istri,” tuturnya.

Ia percaya bahwa perempuan tidak harus memilih antara karier atau keluarga, keduanya bisa berjalan beriringan dengan komitmen dan manajemen yang baik.

Lebih dari Sekadar Jabatan

Kisah Shinta Purwitasari bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang perjalanan, ketekunan, dan keberanian untuk menembus batas.

Ia adalah refleksi nyata semangat R.A. Kartini di era modern, perempuan yang tidak hanya bermimpi, tetapi juga mengambil peran dan memimpin perubahan.

Di tengah dunia yang terus berubah, sosok seperti Shinta menjadi pengingat bahwa kepemimpinan terbaik tidak selalu keras, kadang justru lahir dari empati, ketulusan, dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. (agn)