Alih Fungsi 500 Hektare Lahan Sawit di Rancabungur Jadi Sport Center Berisiko Merusak Lingkungan
Pemerintah akan membangun sport center internasional di Rancabungur, Bogor, dengan mengalihfungsikan lahan sawit.

HALLONEWS.ID – Pemerintah pusat menetapkan kawasan seluas 500 hektare di Rancabungur, Kabupaten Bogor sebagai lokasi pembangunan pusat olahraga (sport center) bertaraf internasional.
Proyek ini digadang-gadang menjadi kawasan terpadu terbesar yang mengintegrasikan pendidikan, pelatihan, hingga kehidupan atlet dalam satu lingkungan.
Namun di balik ambisi tersebut, muncul sorotan terkait alih fungsi lahan perkebunan sawit yang selama ini menjadi bagian dari lanskap ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
Kawasan yang sebelumnya didominasi perkebunan kelapa sawit akan diubah menjadi kompleks olahraga modern.
Di dalamnya akan dibangun Akademi Olahraga Nasional, pusat pelatihan tim nasional, hingga fasilitas hunian atlet.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyebut proyek ini sebagai upaya membangun ekosistem pembinaan atlet berkelanjutan melalui konsep train–learn–live–recover.
Artinya, seluruh kebutuhan atlet—mulai dari latihan hingga pemulihan—tersedia dalam satu kawasan terpadu,” kata Rudy dikutip wartawan media ini Senin (13/4/2026).
Sebelum rencana pembangunan ini muncul, sebagian masyarakat di Rancabungur menggantungkan hidup pada sektor perkebunan, termasuk kelapa sawit.
Aktivitas ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga membentuk pola kehidupan sosial dan ekonomi lokal.
Alih fungsi lahan berpotensi mengubah struktur mata pencaharian warga serta pola kepemilikan dan pengelolaan lahan dan relasi sosial yang terbentuk dari aktivitas perkebunan.
Jika tidak diantisipasi, perubahan ini dapat menimbulkan ketimpangan ekonomi baru atau bahkan konflik sosial.
Perubahan fungsi lahan dalam skala besar membawa konsekuensi ekologis yang perlu diperhatikan secara serius yakni, perubahan ekosistem lokal.
Perkebunan sawit, meski bukan ekosistem alami, tetap memiliki keseimbangan lingkungan tertentu. Pengalihfungsian menjadi kawasan terbangun berpotensi mengganggu habitat flora dan fauna yang telah beradaptasi.
Hal lain, risiko penurunan daya serap air.
Pembangunan infrastruktur besar seperti gedung, jalan, dan fasilitas olahraga dapat mengurangi daya resap tanah. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko banjir, terutama saat musim hujan.
Kemudian emisi dan jejak karbon. Proses konstruksi dalam skala besar akan menghasilkan emisi karbon yang signifikan. Selain itu, hilangnya vegetasi juga berkontribusi pada berkurangnya kemampuan penyerapan karbon.
Hal yang lain, tekanan terhadap sumber daya air. Kawasan olahraga modern membutuhkan pasokan air yang besar, baik untuk fasilitas maupun kebutuhan penghuni. Hal ini bisa berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat sekitar.
Namun di sisi lain, proyek ini juga membuka peluang besar yakni, penciptaan lapangan kerja baru, pertumbuhan sektor usaha kecil dan menengah serta peningkatan nilai ekonomi kawasan.
Jika dikelola dengan baik, kawasan ini dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Bogor sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai destinasi olahraga nasional.
Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada transparansi dalam proses pembebasan dan alih fungsi lahan, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, penerapan standar pembangunan berkelanjutan dan
pengawasan ketat terhadap dampak lingkungan.
Rencana pembangunan sport center di Rancabungur merupakan langkah besar yang berpotensi membawa perubahan signifikan bagi dunia olahraga dan ekonomi daerah.
Namun, alih fungsi lahan sawit menjadi kawasan modern tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi sosial dan lingkungan.
Keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan menjadi kunci agar proyek ini tidak hanya sukses secara fisik, tetapi juga memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. (opy)
