Di Balik Ketegasan Sumarni, Tersimpan Sosok Humanis Menginspirasi
Kapolres Metro Bekasi Sumarni tampil tegas dan humanis, dijuluki “Kartini Bekasi” berkat kepemimpinan yang mengedepankan dialog, empati, dan kepercayaan publik.

HALLONEWS.ID – Di tengah padatnya denyut kehidupan Bekasi dari hiruk pikuk kawasan industri hingga dinamika permukiman urban sosok itu kerap hadir tanpa banyak protokoler.
Berdiri di antara warga, mendengar, berdialog, lalu mengambil keputusan. Itulah gaya kepemimpinan Kombes Pol Sumarni, Kapolres Metro Bekasi, yang dikenal tegas sekaligus humanis.
Sumarni bukan sekadar pemimpin di balik meja. Ia menghadirkan wajah berbeda dalam kepemimpinan kepolisian: tegas dalam penegakan hukum, namun tetap mengedepankan empati di setiap langkah.
Di institusi yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki, kehadirannya menjadi simbol perubahan bahwa perempuan juga mampu berada di garis depan menjaga keamanan.
Julukan “Kartini Bekasi” pun melekat pada dirinya. Bukan sekadar label, tetapi cerminan dari cara ia memimpin dan mengabdi.
Di bawah kepemimpinannya, Polres Metro Bekasi tidak hanya berfokus pada penindakan kriminalitas, tetapi juga responsif terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Dari kasus kejahatan jalanan hingga isu sosial, pendekatan yang dibangun tidak melulu represif, melainkan dialogis.
“Saya meyakini bahwa keamanan tidak hanya dibangun melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui kepercayaan publik,” katanya.
Sumarni kerap turun langsung ke lapanga menyapa warga, berdialog dengan tokoh masyarakat, hingga memastikan pelayanan kepolisian berjalan optimal.
Gaya kepemimpinan ini membuatnya dekat dengan masyarakat sekaligus dihormati di internal institusi. Momentum Hari Kartini menjadi refleksi penting atas kiprah perempuan di ruang publik, termasuk di tubuh Polri.
Bagi Sumarni, kesempatan bagi perempuan terbuka luas selama diimbangi kompetensi dan integritas.
Ia pun mendorong para polisi wanita (polwan) untuk tak ragu mengambil peran strategis. Menurutnya, perempuan memiliki kemampuan yang sama dalam memimpin, selama memiliki komitmen dan kemauan untuk bekerja keras.
Perjalanan Sumarni hingga mencapai posisi saat ini bukan tanpa tantangan. Ia lahir di Pontianak, 7 November 1977, dan tumbuh dalam kesederhanaan.
Sejak kecil, ia telah terbiasa membantu orang tua dengan berjualan kue dan es, pengalaman yang membentuk karakter tangguh dan mandiri.
Langkahnya menuju dunia kepolisian dimulai saat ia menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian dan lulus pada 1996.
Sejak itu, kariernya terus berkembang melalui berbagai penugasan di wilayah hukum Polda Jawa Barat dan Polda Metro Jaya.
Pada 2020, ia dipercaya menjabat Kapolres Sukabumi Kota, kemudian Kapolres Subang pada 2021.
Di dua wilayah tersebut, Sumarni dikenal aktif dalam berbagai program sosial, termasuk pembangunan rumah tidak layak huni bagi masyarakat.
Kariernya berlanjut sebagai Wakapolres Metro Bekasi Kota pada 2023, sebelum kemudian menjabat Kapolresta Cirebon pada 2024 hingga 2025.
Pengalaman di wilayah perkotaan dengan kompleksitas persoalan sosial yang tinggi memperkaya perspektifnya dalam memimpin.
Puncaknya, pada Januari 2026, tongkat estafet kepemimpinan Polres Metro Bekasi resmi berpindah ke tangannya, menggantikan Kombes Pol Mustofa.
Sejak saat itu, ia terus mendorong pendekatan kepolisian yang lebih humanis dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Di luar tugas operasional, dedikasinya juga mendapat berbagai pengakuan. Sepanjang 2025, ia meraih sejumlah penghargaan, di antaranya Tokoh Teladan Peduli Generasi Muda dari Universitas Muhammadiyah Cirebon, Global Safety Ambassador, serta Tokoh Wanita Peduli Generasi Muda dari IJTI Cirebon Raya Award.
Dalam kehidupan pribadi, Sumarni merupakan istri dari Asep Guntur Rahayu, yang kini menjabat sebagai pejabat di Komisi Pemberantasan Korupsi.
Keduanya merupakan rekan satu angkatan di Akpol 1996—sebuah perjalanan yang dimulai bersama dan berkembang dalam jalur pengabdian masing-masing.
Namun, bagi masyarakat Bekasi, Sumarni bukan sekadar pejabat. Ia adalah representasi kepemimpinan yang mampu menghadirkan keseimbangan antara ketegasan dan kepedulian, antara aturan dan nilai kemanusiaan.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, sosoknya menjadi pengingat bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga hadir nyata dalam langkah perempuan masa kini—yang berani memimpin, melayani, dan membawa perubahan.
Sentuhan Humanis Jadi Penentu
Sumarni pernah menyelesaikan polemik pembangunan musala di sebuah perumahan di Kabupaten Bekasi yang berlarut sejak 2022.
Penyelesaian konflik tersebut tak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi juga melalui pendekatan humanis yang mengedepankan dialog, pemahaman, dan kebersamaan.
Penyelesaian sengketa itu mendapat apresiasi dari Komisi III DPR RI. Pada Senin, 30 Maret 2026, Ketua Komisi III Habiburokhman menyerahkan penghargaan Aryaseva Sammana Nusantara kepada Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Sumarni beserta jajarannya.
Penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa pendekatan humanis dalam menyelesaikan konflik sosial tetap relevan, terutama di tengah kompleksitas persoalan perkotaan.
Sengketa bermula dari perbedaan pandangan antara warga dan pihak pengembang terkait status musala di kawasan Vasana Neo Vasana.
Bangunan tersebut berdiri di atas lahan yang sebelumnya berstatus ruang terbuka hijau (RTH), sehingga memicu keberatan warga dan berujung pada konflik berkepanjangan.
Alih-alih menempuh langkah koersif, kepolisian memilih jalur mediasi. Serangkaian pertemuan digelar untuk membuka ruang dialog antara warga dan pengembang, hingga akhirnya tercapai kesepakatan bersama.
Perwakilan warga, Ibnu, mengungkapkan bahwa titik temu dicapai menjelang akhir Ramadan. Status lahan musala disepakati berubah menjadi fasilitas sosial (fasos), sekaligus memastikan bangunan tersebut dapat digunakan secara permanen.
“Sekarang sudah bisa digunakan untuk ibadah. Anak-anak juga sudah mulai mengaji di sana,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi III DPR.
Di sisi lain, pihak pengembang menyatakan komitmennya untuk menjalankan seluruh kesepakatan yang telah dicapai. Konflik yang sempat memanas pun berakhir dengan solusi yang dapat diterima kedua belah pihak.
Bagi Kombes Pol Sumarni, keberhasilan ini menjadi refleksi penting. Ia mengakui proses penyelesaian yang memakan waktu hingga empat tahun menjadi pembelajaran agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Kami sebenarnya malu karena ini berlangsung cukup lama. Tapi ini jadi pembelajaran agar ke depan tidak ada lagi persoalan yang berlarut,” katanya.
Pendekatan yang dilakukan Sumarni dan jajarannya dinilai sebagai cerminan fungsi kepolisian yang tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada upaya melayani dan mengayomi masyarakat.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Rano Alfath menegaskan bahwa kesepakatan yang telah dicapai harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh semua pihak.
Ia juga berharap penyelesaian ini dapat menjadi contoh dalam penanganan konflik sosial di berbagai daerah.
Lebih jauh, DPR menilai bahwa dialog, kesabaran, dan empati merupakan kunci utama dalam merawat harmoni di tengah masyarakat yang beragam.
Kini, musala tersebut tak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol bahwa konflik, betapapun rumitnya, selalu memiliki jalan keluar selama ada kemauan untuk duduk bersama dan saling mendengar. (dul)
