Kisah Haru Korban Tragedi Kereta Bekasi, Ciuman Terakhir Seorang Ibu

Kisah pilu Tutik Anitasari, ibu muda korban tragedi kereta Bekasi Timur. Sebelum berangkat, ia sempat mencium anaknya berkali-kali, kini sang buah hati harus tumbuh tanpa pelukannya.

Kamis, 30 April 2026 - 17:16 WIB
Kisah Haru Korban Tragedi Kereta Bekasi, Ciuman Terakhir Seorang Ibu
Tetangga korban menunjukkan foto Tutik di Cibitung, Kabupaten Bekasi. Foto/Hallonews

HALLONEWS.ID – Minggu 26 April 2026, halaman kecil di depan rumah kontrakan itu menjadi saksi momen yang kini terasa seperti pertanda.

Tutik Anitasari menggendong putri kecilnya, lalu berulang kali mencium keningnya lebih lama, lebih sering dari biasanya.

Seolah tahu, itu akan menjadi yang terakhir. “Dia ciumin anaknya terus, berkali-kali. Kayak enggak mau lepas,” tutur Sri Untung (48), tetangga yang melihat langsung.

Saat disapa, Tutik hanya tersenyum. Hening. Tak banyak kata. Tak ada yang menyangka, dua hari kemudian, senyum itu berubah menjadi kabar duka.

Senin (27/4) malam, Tutik menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur.

Perjalanan yang selama ini ia tempuh demi keluarga justru menjadi perjalanan pulang yang tak pernah sampai.

Setiap hari, pukul 06.00 WIB, ia berangkat dari Stasiun Telaga Murni menuju tempat kerjanya di Tebet, Jakarta Selatan.

Malam hari, ia baru kembali sekitar pukul 22.00 WIB. Waktu bersama anaknya hanya tersisa di sela lelah namun selalu ia jaga. “Kalau libur, pasti ajak anaknya keluar. Digendong terus,” kenang Sri.

Di mata tetangga, Tutik adalah sosok sederhana. Ramah, meski pendiam. Ia baru menikah akhir 2024 dengan suaminya, Aji. Mereka membangun hidup pelan-pelan di rumah kontrakan, bersama orang tua suami.

Impian kecil yang tumbuh diam-diam kini berhenti mendadak. Suprapto, tetangga lainnya, masih sulit percaya. “Kaget sekali. Dia orangnya baik, suka nyapa,” ujarnya pelan.

Kini, yang tersisa hanyalah potongan-potongan kenangan. Tawa kecil seorang ibu muda. Langkah tergesa setiap pagi. Dan pelukan hangat untuk anak yang belum genap dua tahun.

Jenazah Tutik dipulangkan dari RS Polri Kramat Jati pada Selasa (28/4) malam, lalu dimakamkan di Wonogiri, Jawa Tengah, keesokan paginya.

Namun bagi mereka yang pernah melihatnya, Tutik belum benar-benar pergi.

“Kadang kalau kebangun tidur, langsung keingat wajahnya,” ucap Sri, suaranya bergetar. “Ya Allah… kebayang terus.”

Di tengah deru kereta yang kini kembali berjalan, kisah Tutik menyisakan sunyi yang panjang. (dul)