Ketergantungan Sapi Impor Australia Masih Tinggi, Ini Penyebab dan Risikonya
Indonesia masih mengimpor sapi dari Australia akibat keterbatasan produksi dalam negeri. Simak penyebab, manfaat, dan risikonya menurut pakar IPB.

HALLONEWS.ID — Pengiriman sapi hidup dari Australia kembali menjadi sorotan, setelah kapal MV Al Kuwait dilaporkan berlayar dari Darwin dengan membawa lebih dari 17.000 ekor sapi menuju Indonesia.
Kapal tersebut sebelumnya dijadwalkan mengangkut domba ke Timur Tengah, namun konflik di Iran mengubah rute perdagangan.
Selama ini, Indonesia merupakan pasar utama bagi ekspor ternak hidup dari Australia. Pada 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 583 ribu ekor sapi dengan harga rata-rata USD4 per kilogram bobot hidup.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa ketergantungan ini disebabkan oleh keterbatasan produksi daging sapi dalam negeri.
“Populasi sapi potong nasional dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan, terutama di kota-kota besar,” katanya melalui rilis yang diterima wartawan media ini Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, produktivitas sapi lokal masih kalah dibandingkan sapi impor jenis Brahman Cross yang lebih cepat tumbuh dan efisien untuk penggemukan (feedlot). Sementara itu, sapi lokal seperti Sapi Bali memiliki pertumbuhan yang relatif lebih lambat.
Kendala lain juga datang dari keterbatasan pakan, lahan, serta sistem peternakan rakyat yang masih tradisional.
Selain itu, distribusi produksi yang tidak merata, karena terkonsentrasi di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah, tidak sebanding dengan tingginya permintaan di kota besar.
Dari sisi konsumsi, kebutuhan daging sapi di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kelas menengah.
“Sementara sektor industri makanan, hotel, restoran, hingga katering membutuhkan pasokan yang stabil,” tegasnya.
Permintaan juga meningkat pada momen tertentu seperti Idul adha, yang memiliki nilai budaya dan religius tinggi dalam konsumsi daging sapi.
Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi inilah yang mendorong pemerintah untuk mengandalkan impor sapi hidup, terutama dari Australia.
Australia dinilai unggul dari sisi logistik dan infrastruktur ekspor ternak hidup. Pelabuhan seperti Darwin, Kimberley, dan Queensland memiliki sistem terintegrasi yang didukung kapal berkapasitas besar seperti MV Al Kuwait.
Selain itu, harga sapi impor relatif kompetitif dan kualitasnya dinilai baik untuk kebutuhan industri penggemukan. Faktor-faktor ini turut memperkuat hubungan dagang antara kedua negara.
Meski memberikan manfaat, ketergantungan pada impor sapi juga menyimpan risiko. Indonesia rentan terhadap gangguan geopolitik, fluktuasi harga global, hingga masalah logistik dan kesehatan hewan.
Sebagai gambaran, dengan asumsi bobot rata-rata sapi 300 kilogram per ekor, nilai impor tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD700 juta atau setara Rp11 triliun.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah berupaya mengurangi ketergantungan impor, namun hasilnya belum signifikan.
Prof. Ronny menekankan pentingnya strategi jangka panjang. Ia menyarankan penguatan pembibitan sapi lokal seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole, pengembangan riset genetik untuk meningkatkan produktivitas, pembangunan feedlot berbasis pakan lokal seperti jagung dan limbah pertanian dan diversifikasi sumber impor ke negara lain serta peningkatan konsumsi protein alternatif seperti ayam, kambing, dan ikan.
Selain itu, dukungan kebijakan berupa subsidi bagi peternak lokal dan pengaturan kuota impor dinilai penting agar harga sapi domestik tetap kompetitif.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di sektor protein hewani. (opy)
