Bima Arya Dorong Pembentukan Lembaga Aglomerasi usai Banjir Jabodetabek

Wamendagri Bima Arya menilai pembentukan lembaga aglomerasi Jabodetabek semakin penting menyusul cuaca ekstrem dan banjir yang melanda Jakarta serta daerah penyangga.

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:00 WIB
Bima Arya Dorong Pembentukan Lembaga Aglomerasi usai Banjir Jabodetabek
Wamendagri Bima Arya Sugiarto. Foto Hallonews/Yopy

HALLONEWS.ID – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menilai pembentukan lembaga aglomerasi kawasan Jabodetabek semakin mendesak menyusul meningkatnya bencana banjir akibat cuaca ekstrem di Jakarta dan wilayah penyangga, termasuk Bogor.

Pernyataan tersebut disampaikan Bima Arya usai menghadiri kegiatan di Perpustakaan Kota Bogor, Rabu (6/5/2026).

Menurutnya, perubahan cuaca yang tidak menentu telah memunculkan titik-titik banjir baru yang sebelumnya tidak pernah terdampak.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem saat ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah. Karena itu, penanganan banjir dinilai tidak bisa dilakukan secara terpisah oleh masing-masing wilayah.

“Faktor cuaca ekstrem menjadi salah satu penyebab utama. Bahkan beberapa wilayah di Jakarta yang sebelumnya tidak pernah banjir kini ikut terdampak,” ujarnya.

Bima menegaskan, kawasan aglomerasi diperlukan sebagai wadah koordinasi antardaerah di sekitar Jakarta.

Melalui sistem tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat menyusun langkah mitigasi bencana secara terpadu, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan program.

Menurutnya, sinergi lintas wilayah menjadi kunci agar penanganan banjir dan bencana hidrometeorologi dapat berjalan lebih efektif serta berkelanjutan.

Selain menyoroti pentingnya kerja sama regional, Bima Arya juga memberi perhatian khusus terhadap kondisi di Kota Bogor. Ia menilai munculnya sejumlah titik banjir baru perlu menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah.

Ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) melakukan kajian menyeluruh terkait penyebab banjir, termasuk kemungkinan persoalan tata ruang dan perencanaan wilayah.

Menurutnya, evaluasi struktural sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang, terutama di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem di kawasan Jabodetabek. (opy)