Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia Paling Terpuruk Hari Ini
Rupiah menyentuh Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan 12 Mei 2026. Pelemahan dipicu penguatan dolar AS, konflik Timur Tengah, hingga tekanan ekonomi domestik.

HALLONEWS.ID – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dalam perdagangan intraday, sekaligus menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan ini terjadi setelah mata uang domestik terus tertekan sejak akhir pekan lalu.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah hingga 0,51% ke posisi Rp17.495 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.405 per dolar AS.
Tekanan tersebut membuat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia bersama won Korea Selatan dan peso Filipina. Secara year to date (YTD), rupiah telah melemah 4,72% dibanding posisi akhir 2025 di level Rp16.670 per dolar AS.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang emerging market. Indeks dolar AS kembali naik ke level 98,1 di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik Timur Tengah.
Ketidakpastian terkait kelanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong harga minyak mentah Brent bertahan tinggi di kisaran US$104 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan arah suku bunga AS yang diperkirakan tetap tinggi lebih lama.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati sejumlah faktor internal yang dinilai membebani sentimen terhadap aset berdenominasi rupiah.
Ketidakpastian kebijakan terkait royalti hasil tambang, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal di tengah tingginya belanja negara, serta penantian keputusan MSCI terkait bobot Indonesia dalam indeks global turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Dari perspektif global, pelemahan mata uang emerging market menunjukkan meningkatnya aversi risiko investor akibat ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi.
Kondisi ini mendorong arus modal kembali mengalir ke aset safe haven seperti dolar AS, sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk energi dan bahan baku industri. Selain memicu tekanan inflasi, depresiasi rupiah juga dapat memperbesar beban pembayaran utang valas serta menekan daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam periode yang panjang. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.
Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan.
