Kinerja Pemkot Serang Memprihatinkan, Sampah Kembali Menggunung di Sungai Cibanten
Kinerja Pemkot Serang sangat buruk. Tumpukan sampah sepanjang sekitar 100 meter kembali mencemari Sungai Cibanten di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.

HALLONEWS.ID – Persoalan pencemaran Sungai Cibanten kembali menjadi sorotan setelah ditemukan tumpukan sampah dalam jumlah besar di belakang Perumahan Harmoni 2, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan pemerintah daerah terhadap kawasan bantaran sungai yang selama ini menjadi lokasi pembuangan sampah liar.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tumpukan sampah didominasi limbah rumah tangga seperti plastik sekali pakai, styrofoam, kemasan makanan, kayu bekas, hingga kasur yang diduga sengaja dibuang ke aliran sungai. Volume sampah yang membentang hingga sekitar 100 meter tidak hanya mempersempit badan sungai, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi drainase alami dan meningkatkan risiko banjir saat musim hujan.
Kondisi sungai juga terlihat memprihatinkan. Air berwarna cokelat pekat dengan aroma tidak sedap tercium dari lokasi. Sejumlah titik bahkan dipenuhi lalat yang mengindikasikan proses pembusukan sampah organik telah berlangsung cukup lama. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa pencemaran tidak terjadi dalam hitungan hari, melainkan berlangsung secara terus-menerus tanpa penanganan yang maksimal.
Ketua Komunitas Peduli Sungai Cibanten, Lulu Jamaludin, mengatakan lokasi tersebut ditemukan setelah pihaknya melakukan penelusuran pasca kegiatan bersih-bersih sungai yang sebelumnya dilakukan di kawasan Unyur. Namun hasil pemantauan lanjutan justru menemukan kondisi yang lebih parah di wilayah Kasemen.
Menurut Lulu, persoalan utama bukan sekadar banyaknya sampah, tetapi belum adanya efek jera terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan. Ia menilai pola penanganan yang selama ini dilakukan masih berfokus pada pembersihan setelah sampah menumpuk, bukan pencegahan di sumber masalah.
“Setiap kali dibersihkan, beberapa bulan kemudian sampah kembali menumpuk. Artinya ada persoalan pengawasan dan penegakan aturan yang belum berjalan maksimal,” katanya, kepada HalloNews, Kamis (11/6/2026).
Dari sisi lingkungan, tumpukan sampah yang menutup aliran sungai berpotensi menurunkan kualitas air dan merusak ekosistem perairan. Meski masih ditemukan ikan sapu-sapu di sekitar lokasi, kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa hanya jenis ikan tertentu yang mampu bertahan di lingkungan dengan kualitas air rendah.
Aktivis lingkungan mendesak Pemerintah Kota Serang tidak hanya mengandalkan kegiatan gotong royong atau aksi bersih sungai yang bersifat seremonial. Pemerintah diminta melakukan pemetaan titik-titik pembuangan liar, memasang sistem pengawasan, serta menindak tegas pelaku yang terbukti membuang sampah ke sungai.
Selain itu, perlu ditelusuri apakah minimnya fasilitas pengelolaan sampah di sejumlah lingkungan permukiman menjadi salah satu penyebab warga memilih membuang sampah ke sungai. Jika tidak segera ditangani secara menyeluruh, Sungai Cibanten dikhawatirkan akan terus menjadi tempat pembuangan akhir ilegal yang mengancam kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan di Kota Serang. (esa)
