IPB University Tawarkan Teknologi Kontrol Hormon untuk Atasi Dampak Perubahan Iklim pada Budi Daya Ikan
Perubahan iklim menjadi ancaman bagi sektor perikanan budi daya. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar IPB University, Prof Agus Oman Sudrajat, menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan sebagai solusi untuk menjaga ketersediaan benih dan mendukung keberlanjutan produksi akuakultur

HALLONEWS.ID – Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara dan air berdampak langsung terhadap sektor perikanan budi daya.
Selain menghambat pertumbuhan ikan, kondisi ini juga dapat mengganggu proses reproduksi yang menjadi kunci keberlanjutan produksi akuakultur.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Agus Oman Sudrajat, menjelaskan bahwa reproduksi ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
Kenaikan suhu akibat perubahan iklim dapat menghambat pelepasan hormon reproduksi sehingga induk ikan gagal mencapai kematangan gonad dan tidak mampu memijah secara optimal.
“Pada 2017 saat kemarau panjang, banyak induk ikan budi daya di hatchery tidak matang gonad sehingga produksi benih terganggu. Semua pengaruh lingkungan pada akhirnya diterjemahkan dan direspons oleh hormon di dalam tubuh ikan,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar dikutip wartawan media ini Senin (29/6/2026).
Menurut Prof Agus, ketika kondisi lingkungan tidak mendukung, produksi hormon reproduksi menurun sehingga proses pemijahan ikut terganggu.
Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi manipulasi hormonal dikembangkan agar induk ikan tetap mampu bereproduksi secara normal meski menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Melalui inovasi tersebut, pembenih dan pembudi daya dapat memproduksi benih sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim hujan yang selama ini menjadi periode reproduksi alami sebagian besar ikan tropis.
Dengan demikian, pasokan benih dapat lebih terjaga dan mendukung peningkatan produksi ikan budi daya secara berkelanjutan.
Prof Agus menambahkan, teknologi kontrol hormonal reproduksi kini tidak lagi hanya dapat dimanfaatkan industri besar.
Produk hasil inovasi tersebut telah tersedia melalui platform perdagangan daring sehingga pembudi daya skala kecil juga dapat mengakses dan menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas.
Ia optimistis penerapan teknologi tersebut secara luas akan membawa dampak signifikan bagi sektor akuakultur nasional.
Dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, produksi ikan budi daya diperkirakan dapat meningkat sedikitnya dua kali lipat karena proses reproduksi dapat berlangsung sepanjang tahun.
Selain meningkatkan produktivitas hatchery, teknologi ini juga dinilai membuka peluang pengembangan spesies budi daya baru serta mendukung upaya konservasi melalui penyediaan benih untuk program restocking di perairan alami.
“Kontrol hormonal reproduksi bukan hanya teknologi untuk meningkatkan produksi, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung keberlanjutan akuakultur, dan menjaga keanekaragaman hayati perikanan Indonesia,” pungkasnya. (opy)
