Pemerintah dan LPDB Koperasi Perkuat Ekosistem Gula Nasional

Rembuk Petani Tebu Rakyat telah digelar di Semarang. Seluruh pihak berkomitmen memperkuat ekosistem gula nasional.

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:08 WIB
Pemerintah dan LPDB Koperasi Perkuat Ekosistem Gula Nasional
Rembuk Petani Tebu Rakyat dalam Penguatan Ekosistem Industri Gula digelar di Kota Semarang, Juli 2026. Foto: Dok. LPDB Koperasi

HALLONEWS.ID – Pemerintah terus memperkuat kemandirian industri gula nasional melalui penguatan koperasi petani tebu. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sinergi Kementerian Koperasi (Kemenkop), Kementerian Pertanian (Kementan), Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, dan PT PG Rajawali I dalam membangun ekosistem industri gula nasional yang terintegrasi.

Upaya itu ditandai dengan penyelenggaraan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Dana Bergulir Koperasi yang dirangkaikan dengan Rembuk Petani Tebu Rakyat dalam Penguatan Ekosistem Industri Gula di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto, Direktur Pembiayaan Syariah LPDB Koperasi Ari Permana, Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi Deva Rachman, jajaran PT PG Rajawali I, serta sekitar 100 peserta yang merupakan pengurus dan manajer dari 50 koperasi petani tebu di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat.

Forum ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat tata kelola koperasi petani tebu sekaligus membangun rantai pasok industri gula nasional yang terintegrasi, mulai dari petani, koperasi, pembiayaan, hingga offtaker industri.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, transformasi koperasi petani tebu menjadi kelembagaan ekonomi yang profesional, produktif, dan berdaya saing merupakan salah satu prioritas pemerintah.

Menurut Ferry, LPDB Koperasi memiliki peran strategis dalam mempercepat transformasi tersebut. Tidak hanya melalui penyaluran dana bergulir, tetapi juga lewat program inkubasi, pendampingan, dan penguatan tata kelola koperasi.

“Kami memiliki BLU LPDB Koperasi sebagai lembaga yang akan mempercepat proses transformasi agar koperasi-koperasi petani tebu semakin produktif dan profesional. LPDB Koperasi tidak hanya menyalurkan dana bergulir, tetapi juga membangun kapasitas koperasi melalui program inkubasi, pendampingan, dan peningkatan tata kelola sehingga koperasi menjadi lembaga yang sehat dan mampu memperbesar skala usahanya,” ujar Ferry dalam keterangan resmi, Jumat (17/7/2026).

Ia mengapresiasi langkah LPDB Koperasi yang terus mendampingi koperasi petani tebu agar memiliki tata kelola yang semakin baik, meningkatkan produktivitas, serta memperluas akses pasar.

Ferry berharap hasil panen petani dapat diserap oleh PT PG Rajawali I dan selanjutnya dipasarkan melalui gerai-gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Menurutnya, sinergi antara Kementerian Koperasi dan Kementerian Pertanian akan terus diperkuat sebagai bagian dari implementasi visi Presiden Prabowo Subianto dalam menjadikan koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi nasional.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada gula konsumsi. Tantangan berikutnya adalah memenuhi kebutuhan gula industri dan bioetanol melalui peningkatan produktivitas petani tebu.

“Arahan Presiden jelas, seluruh kebutuhan gula konsumsi maupun gula industri secara bertahap harus mampu dipenuhi dari dalam negeri. Bahkan ke depan kebutuhan bioetanol untuk program E10 dan E20 juga akan berasal dari tebu,” kata Sudaryono.

Menurutnya, peningkatan produktivitas lahan dan rendemen menjadi kunci agar produksi gula nasional semakin efisien dan harga gula semakin kompetitif tanpa mengurangi kesejahteraan petani.

Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto mengatakan koperasi sektor pertanian tebu memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pengembangan industri gula nasional.

Ia menegaskan LPDB Koperasi berkomitmen menjadi mitra strategis koperasi melalui pembiayaan yang mudah diakses, pendampingan usaha, dan peningkatan kapasitas kelembagaan.

Hingga 30 Juni 2026, LPDB Koperasi telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp22,4 triliun. Nilai tersebut terdiri dari Rp17,4 triliun untuk skim Simpan Pinjam dan Rp5 triliun untuk skim Sektor Riil.

Sementara sepanjang Januari hingga Juni 2026, realisasi penyaluran mencapai Rp1,07 triliun, dengan rincian Rp313,6 miliar untuk skim Simpan Pinjam dan Rp760,1 miliar untuk skim Sektor Riil.

Di sektor pembiayaan syariah, sejak 2020 hingga 30 Juni 2026, LPDB Koperasi telah menyalurkan Rp5,5 triliun. Adapun realisasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp506,7 miliar sebagai bagian dari target pembiayaan syariah tahun 2026 sebesar Rp900 miliar.

Krisdianto menjelaskan, kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengurus dan manajer koperasi agar mampu mengelola usaha secara profesional, akuntabel, dan berdaya saing.

“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kapasitas pengurus dan manajer koperasi agar mampu mengelola usaha secara profesional, akuntabel, dan berdaya saing. Dengan tata kelola yang semakin baik, koperasi akan lebih siap mengakses pembiayaan LPDB Koperasi untuk memperbesar kapasitas usahanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara koperasi, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan industri merupakan fondasi penting dalam membangun ekosistem gula nasional yang berkelanjutan.

“LPDB Koperasi akan terus hadir mendukung penguatan ekonomi kerakyatan melalui pembiayaan bergulir yang akuntabel, mudah diakses, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani serta kemajuan koperasi Indonesia,” tutup Krisdianto.

Melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian, LPDB Koperasi, PT PG Rajawali I, dan koperasi petani tebu, pemerintah optimistis industri gula nasional akan semakin kuat, produktivitas petani meningkat, serta target swasembada gula nasional dapat tercapai sekaligus memperkuat peran koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat. (HN)