Purbaya Klaim APBN 2026 Makin Kokoh, Pendapatan Negara Melonjak 21,4 Persen

Purbaya menyebut APBN 2026 semakin kuat, pendapatan negara naik 21,4 persen, defisit terkendali, serta kepercayaan investor terus meningkat.

Rabu, 22 Juli 2026 - 7:45 WIB
Purbaya Klaim APBN 2026 Makin Kokoh, Pendapatan Negara Melonjak 21,4 Persen
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KITA Tahun 2026. (Foto: Kemenkeu for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 Juni 2026 menunjukkan fondasi fiskal Indonesia semakin kuat.

Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA Tahun 2026 di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

“Pendapatan negara tumbuh signifikan, defisit tetap terkendali, sementara kepercayaan investor internasional terhadap ekonomi nasional terus meningkat,” ujarnya.

Purbaya menjelaskan, realisasi pendapatan negara pada semester I 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN 2026. Angka tersebut melonjak 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp1.035,7 triliun atau tumbuh 24,6 persen secara tahunan. Selain itu, penerimaan kepabeanan dan cukai terealisasi Rp152 triliun atau naik 3,4 persen, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp271 triliun, meningkat 21,6 persen dibandingkan tahun lalu.

Di sisi belanja, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah telah merealisasikan Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN 2026. Nilai tersebut tumbuh 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia mengatakan belanja Pemerintah Pusat tercatat sebesar Rp1.298,6 triliun, terdiri atas belanja kementerian/lembaga sebesar Rp658,9 triliun dan belanja non-kementerian/lembaga sebesar Rp639,7 triliun. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah mencapai Rp357,4 triliun atau 51,6 persen dari target tahun ini.

“Meski belanja meningkat, kondisi fiskal tetap terjaga. Defisit APBN hingga akhir Juni hanya sebesar 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara keseimbangan primer masih mencatat surplus Rp85,1 triliun. Kondisi tersebut menjadi indikator kuat bahwa pengelolaan fiskal pemerintah tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia mengatakan untuk memperkuat pembiayaan negara, pemerintah juga berencana menerbitkan Panda Bonds senilai ekuivalen USD1 miliar pada 23 Juli 2026, dengan mempertimbangkan kondisi pasar. Instrumen tersebut telah memperoleh peringkat AAA/Stable dari Lianhe Rating Co., Ltd., yang merupakan peringkat tertinggi dan mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.

Di saat yang sama, lanjut kata Purbaya, Indonesia juga berhasil mempertahankan peringkat kredit internasional dari Standard & Poor’s (S&P) pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.

“Capaian itu memperkuat keyakinan investor terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global,” tambahnya.

Purbaya menegaskan akan terus menjaga APBN tetap sehat, kredibel, dan adaptif guna memperkuat stabilitas ekonomi, menjaga keberlanjutan fiskal, meningkatkan kepercayaan investor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (agn)